Segera setelah krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1997-1998, bentang alam kota Jakarta berubah. Tiba-tiba lahan kosong ditanami berbagai sayur-sayuran yang cepat menghasilkan. Lahan bakal jalon tol yang tertunda pembangunannya sejak tahun 1995 di dekat rumah saya dipenuhi bayam dan chaisim. Begitu juga beberapa lahan kosong di tengah pusat kota Jakarta. Di beberapa lingkungan perumahan, tiba-tiba beberapa anggota kelas menengah mendapatkan tawaran sayur-mayur segar dari blok tetangga. Ingatan ini segar di benak saya karena saya secara langsung juga mendapat permintaan sumbangan “investasi” untuk beberapa teman muda, seniman, penulis dan mahasiswa lulusan baru yang tidak mungkin mendapatkan pekerjaan di saat-saat krisis itu. Mereka bercocok tanam di lahan-lahan kosong, termasuk tanah-tanah orang tua mereka yang belum sempat dibangun. Ada juga lahan-lahan yang secara tradisional telah digarap, seperti misalnya tepian sungai, kini menjadi lebih intensif. Para pemeta hijau Menteng, yang dengan perahu karet menyusuri segmen sungai Ciliwung yang melewati Menteng, menemukan lebih dari seratus titik pertanian kota ini pada tahun 2003-2004.
Baca entri selengkapnya »


Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru dengan saya, Wimar Witoelar. Kali ini tamu kita Marco Kusumawijaya. Dia seorang arsitek yang memiliki perhatian khusus pada kota dan lingkungan. Marco Kusumawijaya yang lulusan Universitas Parahyangan jurusan arsitektur ini bekerja sebagai konsultan perencanaan pembangunan perkotaan. Selain itu saya melihat dia dari kegiatannya untuk masyarakat melalui berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai individu. 

Jaringan Komunitas Peta Hijau Indonesia yang berupaya mewadahi berbagai inisiatif lokal menuju terciptanya kehidupan yang sehat dan berkelanjutan dengan menggunakan metode 





