oleh: Joni Faisal*
DALAM kategori The Green Map System (GMS), atau sistem pemetaan yang menginformasikan sumber daya lingkungan dan budaya di suatu kota, terdapat kategori best walks dengan legenda dua telapak kaki, di antaranya trotoar, jalan-jalan “alami”, termasuk jalan-jalan yang berdaya tarik khusus, lalu direkomendasikan tim pembuat GMS sebagai best walks yang berdaya tarik.
Intinya,best walks identik dengan jalur nyaman bagi pejalan kaki. Jakarta sendiri, pada Januari 2002 telah terdaftar sebagai ibu kota ke-20, serta negara ke-156 dari seluruh dunia yang akan memiliki GMS tersebut. Saat ini, pembuatan “peta hijau” yang dipelopori Wendy Brawer pada tahun 1994 di New York itu, kini sedang dimulai di kawasan Kemang dan sekitarnya di Jakarta Selatan. Sebagai suatu sistem, GMS selalu didukung partisipasi publik yang ikut menentukan sumber daya lingkungan dan budaya mana saja yang sepatutnya diinformasikan.
Dengan demikian, publik pula yang menentukan lingkungan itu, serta dapat menolak kebijakan pemerintah yang jelas-jelas tidak mendukung upaya perbaikan lingkungan. Bagi sebuah kota, best walks merupakan sarana vital sejajar dengan fasilitas umum lainnya. Artinya, tanpa peta jalan itu, kota ibarat tanpa darah, karena pejalan kaki adalah energi yang menghidupkan kota. Jalan-jalan mulus dan arus kendaraan yang lalu lalang bukan satu-satunya dinamika yang memberikan eksistensi bahwa kota itu hadir.
Jakarta barang kali hanya memiliki sedikit “jalan-jalan terbaik” itu. Namun, pada kenyataannya, best walks itu sering kali terabaikan, bahkan tidak dimanfaatkan, karena keberadaannya tidak disadari. Dengan GMS, jalan-jalan seperti itu akan terinformasikan. Sayangnya, di Jakarta, jalan-jalan yang masuk kategori itu terbilang langka.
Sebenarnya, secara langsung maupun tidak, manfaat best walks sangat besar bagi keleluasaan mobilitas kota. Banyaknya kendaraan pribadi yang tumpah ke jalan raya, barangkali merupakan indikasi tidak adanya jalan yang layak untuk pejalan kaki. Sehingga untuk jarak yang relatif dekat pun orang lebih suka memakai mobil.
Sebagai contoh, berapa banyak orang yang mau berjalan kaki dari perempatan Jalan CSW di Kebayoran Baru ke Ratu Plaza di Jalan Sudirman, meski berjarak tidak sampai 1.000 meter? Atau dari CSW ke Pasar Mayestik? Padahal, jika dicoba, jarak 1.000 meter relatif dekat untuk berjalan kaki. Namun, masalahnya, seberapa banyak jalan yang nyaman sepanjang itu di Jakarta?
Kenyataannya, memang tidak mudah mendapatkan jalan yang nyaman bagi pejalan kaki. Trotoar yang ada, banyak yang tidak memenuhi standar kenyamanan. Sementara itu, pedagang kaki lima seolah-olah menjadi pemilik lahan trotoar dengan hamparan barang dagangannya, tanpa seorang pun berani melarang. Di Jalan Sudirman misalnya, meskipun baru-baru ini terjadi penertiban, masih banyak trotoar yang dijejali pedagang kaki lima. Walaupun di beberapa tempat tampak bersih, tetapi pencegahan gerobak pedagang dengan kawat duri dan tonggak perintang di sisi trotoar cuma bikin jalur jalan itu berbahaya.
Dari segi estetika pun, pencegahan seperti itu sangat tidak mencerminkan daya tarik maupun keindahan kota. Di sisi lain, tidak sedikit jalanan yang seharusnya tempat terbaik bagi pejalan kaki, harus dikorbankan untuk kepentingan tertentu. Misalnya pelebaran jalan, papan iklan yang mengganggu pemandangan, dan juga pohon perindang yang semakin menghilang.
***
BEST walks yang sebenarnya memberikan peluang untuk menghemat energi, mengatasi kemacetan, mengurangi beban jalan, memberikan kesehatan masyarakat, juga memberikan kesempatan warga menikmati kotanya. Kontribusi “jalan-jalan terbaik” ini tentu saja memberikan alternatif bagi pengguna jalan raya untuk berjalan kaki. Sehingga beban jalan yang digunakantidak bertambah sumpek, padat, dan menimbulkan kemacetan. Lagi pula, kebiasaan berjalan kaki-yang mulai luntur pada masyarakat kota-merupakan cara paling bersahaja untuk menuju ke suatu tempat.
Dengan begitu, best walks yang apa adanya di Jakarta saat ini harus segera ditandai dalam Green Map System. Dengan demikian publik berhak menentukan sendiri “jalan-jalan terbaik” mereka, dan dimanfaatkannya untuk jalur berjalan kaki. Peran pemerintah di sini tinggal mengakomodasi apa yang telah warga lakukan. Artinya, jalan telah dipilih warga sebagai jalan terbaik itu, tidakserta merta dapat diganggu untuk kepentingan yang tidak bermanfaat tanpakompromi masyarakat.
* Joni Faisal, relawan “Green Mapmaker” Jakarta
Sumber: kompas.com


Jaringan Komunitas Peta Hijau Indonesia yang berupaya mewadahi berbagai inisiatif lokal menuju terciptanya kehidupan yang sehat dan berkelanjutan dengan menggunakan metode 






Agustus 20, 2006 pukul 8:38 pm
To Green MapMaker Jakarta
Saya dan teman2 saya butuh banget pengetahuan tentang green map, kami mau menambah wawasan kami melalui green map ini. tolong bisa berikan kami informasi tentang green map tersebut. ok thanks banget. -nina-
Oktober 15, 2006 pukul 10:02 am
sy adl seorang penduduk daerah lebak bulus, jakarta. secara gak sengaja sy nyasar ke situs ini dan sy menjadi tertarik utk mengetahui dan kemungkinan tuk bekerja sama membuat peta hijau daerah lebak bulus, cinere, sawangan dsk
di perumahan kami telah ada pembuatan kompos dari sampah rumah tangga yg dipelopori oleh bp.Jamaludin (ex menhut)dan kalau tidak salah di pinggir kali pesanggrahan di wilayah lebak bulus juga sdh ada yayasan yg menjaga lingkungan kali
setiap minggu sy bersepeda cross country dari lebak bulus sampai dengan sawangan dsk, komunitas kami sudah memiliki peta gps dr trek yg dilalui, karena pesatnya pembangunan perumahan dan akan dibuatnya jalan tol, memaksa kami mencari trek2 baru
sy mau menanyakan bgmn caranya tuk memulai pembuatan peta hijau atau adakah yg mau bekerja sama???
Oktober 16, 2006 pukul 10:31 am
Mz Aldy bisa menghubungi pegiat Peta Hijau Jakarta berikut ini:
Marco Kusumawijaya (marcokw@centrin.net.id)
David Hutama Setiadi (khorazon@centrin.net.id)
Gita Hastarika (punya_mbag@yahoo.com)
Jika tertarik ingin mengembangkan Peta Hijau di daerah tsb, biasanya dimulai dengan workshop bersama suatu tim kecil. Dalam workshop ini akan dijelaskan tahap-tahap pembuatan Green Map dan pengorganisasian rangkaian kegiatannya. Tim kecil inilah yang akan memimpin proses tsb selanjutnya.
Mz Aldy bis amulai dgn mengumpulkan sejumlah orang yg akan tergabung dalam tim kecil tsb. Jaringan Peta Hijau nanti akan membantu pelaksanaan workshop di atas.
Salam
Elanto WIjoyono
Oktober 17, 2006 pukul 4:23 pm
tq, nanti sy coba hubungi alamat2 di atas
November 14, 2006 pukul 7:25 am
Sangat memberi inspirasi. Saya coba ikut kampanye untuk membuatnya populer.
Desember 28, 2006 pukul 4:20 pm
saya mempunyai program “harmoni alam metro eco-life style” setiap hr sabtu jam 09.00-10.00 di radio suara metro fm 107,8. kami membicarakan permasalahan lingkungan hidup khususnya kota jakarta dan berharap dapat bekerja sama dengan peta hijau.hp saya 0812 8765911 atau e-mail harmonialam@cbn.net.id.
salam lestari
Juli 30, 2007 pukul 3:54 pm
Saya Lagi kewalahan buat cari gambar kali-kali di jakarta yang bersih ama kotor nih..bisa cariin di website mana saya bisa cari gak..saya kan ngajar anak SD dan kebetualn murid les saya disuruh cari gambar kali yang kotor dan bersih di jakarta..tks a lot kalau ada yang kasih informasi..
September 28, 2009 pukul 6:40 am
keep green! keep berbagi