29 September 2006, ketika saya berjalan memasuki pesawat terbang dengan tujuan Jambi, sepucuk sms datang dari penulis Ayu Utami. Sebuah pertanyaan,”Adakah aturan yang melarang orang membakar sampah?”. Saya jawab, “Mungkin sudah ada,” sambil menebak bahwa pasti ia sedang jengkel kepada tetangga rumah barunya yang mungkin saja sedang membakar sampah. Saya juga sehentak teringat penulis besar, Pramoedya Ananta Toer, yang punya kegemaran membakar sampah seumur hidupnya.
Sejam kemudian saya mendapatkan diri saya dikepung asap yang menghalangi pandangan hanya sejauh beberapa ratus meter. Saya mendarat di Jambi. Langit putih. Matahari temaram, disekitarnya cahaya berpendar, sehingga kita bisa menatapnya tanpa silau, oleh sebab intensitasnya yang menurun drastis. Kemerahan ia, seperti bulan ketimbang dirinya Sang Surya. Fotografer National Geographic, Sdr. Ferry, mulai menggerutu, karena tak bisa mendapatkan langit biru. Ia juga tak yakin bagaimana bisa memotret di situs Muarojambi yang menjadi tujuan kami. Kami memang datang sebagai Perhimpunan Pelestarian Kawasan Muarojambi. Teman-teman mendapuk saya sebagai ketua, sampai waktunya nanti ketika saya mungkin merasa tidak sanggup lagi, misalnya karena harus lebih kental mengurus Dewan Kesenian Jakarta. Baca entri selengkapnya »


Jaringan Komunitas Peta Hijau Indonesia yang berupaya mewadahi berbagai inisiatif lokal menuju terciptanya kehidupan yang sehat dan berkelanjutan dengan menggunakan metode 





