Green Map atau Peta Hijau?

Green Map, yang kemudian diadopsi di Indonesia sebagai Peta Hijau, adalah sistem pembuatan atau penandaan peta (dengan ikon-ikon) untuk menampilkan saling keterkaitan antara aspek lingkungan dan budaya dengan entitas pendukungnya (masyarakat) di suatu kawasan, terutama daerah perkotaan. Dalam setiap prosesnya, sistem ini mengidealisasikan adanya partisipasi aktif komunitas setempat untuk melakukan eksplorasi lingkungannya, mendiskusikan atau memperdebatkan arah perkembangan kota atau kawasan tinggal mereka.

Dalam beberapa kasus, metode partisipatif ini juga dapat didayagunakan sebagai perangkat advokasi kritis terhadap orientasi perkembangan kota yang cenderung mengesampingkan kepentingan masyarakat.

Lewat keterlibatan langsung dalam memetakan wilayahnya, masyarakat sekaligus bisa mengenal sisi-sisi pembentuk budaya dan lingkungan yang barangkali tak pernah tersadari dalam keseharian mereka. Sebuah proses pengenalan yang diharapkan bakal membuka cakrawala dan orientasi baru dalam memaknai kembali budaya berkota. Proses semacam ini mengarah pada tujuan akhir untuk mengembangkan kebiasaan hidup perkotaan yang lebih arif, sehat dan berkelanjutan.

Proses tersebut dimungkinkan dengan dikembangkannya Green Map System (GMSwww.greenmap.org), sebuah jaringan nirlaba global yang dikembangkan pada tahun 1995 oleh Wendy Brawer, seorang wanita aktivis lingkungan dan desainer dari New York, Amerika Serikat. Embrio sistem ini adalah Green Apple Map (1992), sebuah peta hijau yang mencoba mengungkap komponen budaya dan lingkungan kota New York. Sambutan hangat New Yorker memompa semangat Wendy untuk menciptakan suatu pendekatan sistematis yang membuat setiap peta hijau dapat dimanfaatkan oleh siapa pun, kapan pun dan dimana pun.

Wendy Brawer

Dia lantas menggagas sebuah sistem penanda (ikon) standar yang merepresentasikan nilai-nilai tertentu dari suatu tempat dalam sebuah peta hijau. Sistem ikon inilah yang kemudian menjadi “bahasa” global yang menyatukan inisiatif-inisiatif lokal di seluruh dunia. Hingga kini, sekitar 237 tempat dari 39 negara di dunia, mulai dari tingkat ibu kota negara sampai ke lingkup setingkat RW (neigborhood), telah memanfaatkan metode Peta Hijau. Sepuluh tempat di enam negara kini tercakup dalam Green Map Atlas (www.greenatlas.org) yang pertama, termasuk kota diantaranya kota Jakarta.

Saat ini GMS menyediakan sejumlah 125 ikon untuk menandai tempat-tempat bernilai penting (baik maupun buruk) dari perspektif lingkungan maupun budaya. Contoh ikon yang dipakai misalnya tanda “toko ramah lingkungan”, “sasana seni”, “panorama matahari terbenam”, “tempat ramah usia lanjut” yang semuanya tercakup dalam 11 kategori. Proses menandai suatu tempat dengan ikon tertentu seringkali harus diwarnai dengan diskusi, bahkan perdebatan yang mendalam. Proses perdebatan merupakan kesempatan bagi warga untuk mengenali lingkungannya secara lebih baik, termasuk melalui perspektif yang berbeda-beda dari pluralitas warga yang ada.

Selain 125 ikon global, juga telah dikembangan 50 ikon untuk dipergunakan dalam proyek Peta Hijau Muda / Youth Map (peta hijau yang dikerjakan oleh anak-anak dan remaja). Setiap pemeta juga diperbolehkan menciptakan ikon lokal jika dinilai ikon global tidak mewakili informasi yang akan disajikan dalam peta hijau.

Klik di sini untuk mempelajari langkah-langkah memulai proses pembuatan peta hijau di daerah Anda! Untuk informasi lebih lengkap mengenai jaringan peta hijau global, silahkan klik www.greenmap.org atau hubungi alamat di bawah ini:
Green Map System

220A East 4th Street, New York, NY 10009
PO Box 249, New York, NY USA 10002-0249
web@greenmap.org (Wendy Brawer) / info@greenmap.org
www.greenmap.org

Ditulis dalam +RAGAM. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: