Hilangkan Pembagian Wilayah Kota

(Dari wawancara Wimar Witoelar dengan Marco Kusumawijaya, diambil dari sini )

Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru dengan saya, Wimar Witoelar. Kali ini tamu kita Marco Kusumawijaya. Dia seorang arsitek yang memiliki perhatian khusus pada kota dan lingkungan. Marco Kusumawijaya yang lulusan Universitas Parahyangan jurusan arsitektur ini bekerja sebagai konsultan perencanaan pembangunan perkotaan. Selain itu saya melihat dia dari kegiatannya untuk masyarakat melalui berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai individu. Dia juga aktif menulis di media massa dan telah meluncurkan beberapa buku. Salah satunya adalah berjudul Jakarta Metropolis Tunggang Langgang.

Menurut Marco, kita adalah bangsa yang sangat muda dalam kebudayaan berkota. Karena itu kota yang baik masih merupakan suatu konsep yang masih harus terus kita wacanakan dan pahami.

Misalnya, Jakarta yang menjadi kota kosmopolitan sebenarnya berada di tingkat yang sangat rendah sebagai sebuah kota. Namun itu bukan berarti kita harus menolak konsep kosmopolitan karena keterbukaan tidak bisa dihalangi, tergantung dari diri kita sendiri menghadapi seleksi dan pengembangan sikap. Dalam hal ini yang paling penting kota harus direncanakan dengan memperlakukan penghuninya benar-benar sebagai pemakai atau user yang tidak hilang di dalam statistik besar.

Apa tema sentral yang Anda ingin bawakan mengenai perkotaan?
Ini saya mengutip saja dari seorang yang mengatakan dan meringkas perhatian saya secara cukup baik. Dia mengatakan saya selalu berusaha untuk memberitahu orang atau menunjukkan bagaimana kota yang baik itu. Kebetulan kita adalah bangsa yang sangat muda dalam kebudayaan berkota dan mengkota. Karena itu kota yang baik masih merupakan suatu konsep yang masih harus terus kita wacanakan dan pahami.

Saya baca di sampul belakang buku Anda bahwa Jakarta telah membuat banyak orang frustasi karena gagal menjadi tempat yang lebih baik untuk tinggal. Sebagian besar warganya hidup tunggang langgang di dalam dan bersamanya. Namun sebagai metropolis yang menawarkan kesempatan kosmopolitan dia tetap saja menarik banyak orang. Sepertinya skeptis sekali terhadap kondisi Jakarta. Apa benar Jakarta sepayah itu dan menurut Anda mengapa Jakarta payah?
Sebetulnya saya tidak bermaksud skeptis, saya sebenarnya dikenal sebagai orang yang optimis. Tapi bahwa Jakarta ini payah, kita bisa melihatnya dari beberapa indikasi. Salah satunya membandingkannya dengan kota-kota di negara lain dan juga di Indonesia.

Kalau dibandingkan dengan kota-kota Asia lain, kita bisa melihat dari Majalah Asia Week yang setiap tahun menerbitkan indikator tentang kota-kota yang baik. Sedangkan dari pengalaman yang terjadi, kita mengetahui ada berbagai persoalan lingkungan seperti banjir, kemudian persoalan transportasi yang tidak beres-beres, tata ruang yang terus menerus rusak dan biasanya hanya diputihkan di dalam perencanaan berikutnya. Pada semua indikator itu, kita bisa mengatakan bahwa Jakarta sebenarnya berada di tingkat yang sangat rendah sebagai sebuah kota.

Kalau Jakarta tidak seperti diharapkan, apakah itu karena keterbatasan kemampuan resources atau pilihan policy yang salah?
Saya pikir jelas karena pilihan policy yang salah. Optimisme saya tercermin dengan selalu mengatakan bahwa Jakarta mempunyai resource yang luar biasa. Kalau tidak salah, Jakarta merupakan satu dari dua kota di Indonesia yang mampu hidup dengan pendapatan asli daerahnya. Kemudian karena sistem kita yang sentralisasi, seperti yang telah kita ketahui, Jakarta berkumpul semua orang yang hebat-hebat, seperti rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang sangat tinggi dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Secara resources kita punya segala hal, jadi saya rasa pilihan policy yang salah.

Apa kebijakan yang membuat Jakarta menjadi kota yang lebih jelek dari kota lain?
Ada beberapa. Pertama, kita bisa mengacu pada transportasi yang sangat tergantung kepada kendaraan pribadi atau mobil secara umum, dan hampir minimnya sistem angkutan umum yang baik. Kemudian sistem angkutan umum ini tidak terpadu dengan sistem tata ruang. Angkutan umum yang baik itu harus integral dengan tata ruang karena menyangkut bagaimana mengelola demand terhadap angkutan umum. Tata ruang kita sendiri bermasalah karena cenderung memisah-misahkan berbagai fungsi sehingga ada konsentrasi yang terlalu tinggi di satu pihak.

Apakah salah kalau ada pemisahan fungsi di satu zona?
Menurut saya, salah kalau pemisahan itu terlalu drastis. Karena itu menyebabkan terjadinya kebutuhan untuk bergerak.

Jadi misalnya ada kawasan industri, kawasan perumahan, kawasan pertokoan, atau kawasan rekreasi, apakah itu tidak bagus?
Itu suatu ideologi yang sebetulnya sejak tahun 60-an sudah dikritik habis-habisan sebagai warisan dari salah satu ekses modernisasi. Sebetulnya pada tahun 60-an orang sudah sadar dan kita terlambat dalam mengubahnya. Di belakang ini sebetulnya ada pesan berupa asumsi seolah-olah nilai ruang ditentukan oleh pasar. Padahal kita tahu seharusnya tata ruang itu bisa mengendalikan harga tanah. Contoh yang sederhana adalah Singapura. Negara itu sangat berorientasi pasar, tapi dalam hal tanah dan penggunaan tanah itu 100% sangat terkendali. Mereka tahu persis penggunaan setiap jengkal tanah. Mereka yang membuatnya. Sedangkan kalau kita bicara dengan para pembuat kebijakan tata ruang dan tata kota selalu mengatakan karena pasar sudah begitu. Kita hanya mengikuti.

Apa hubungannya dengan developer besar yang kadang-kadang bisa membuat harga dan pasar tanah karena bisa mengubah rawa menjadi taman rekreasi, hutan karet menjadi perumahan. Bukankah Itu menciptakan pasar tanah juga?
Ya. Saya rasa itu merupakan salah satu tantangan dan menurut saya salah satu kegagalan kita adalah dalam hal menjawab itu.

Jadi kalau saya mau meluruskannya karena kalau mengkritik tahun 60-an saya juga orang tahun 60-an, dulu saya pikir hebat karena orang di Barat mengatakan kota itu ada zona industri, ada zona sub-urban, dan zona lainnya. Tapi kemudian memang saya mendengar juga ada yang mengatakan kota harus lebih terintegrasi. Jadi sekarang menurut Anda, apakah kota itu harus dibagi-bagi atau harus dicampur saja?
Pada prinsipnya harus dicampur. Tetapi kita tidak bisa bersifat hitam-putih atas hal ini karena tentu saja ada fungsi industri tertentu yang pasti tidak mungkin bisa dicampur. Misalnya, yang mengeluarkan polusi terlalu banyak dan sebagainya.

Yang Anda katakan itu menarik sekali. Saya mendengar sepotong bahwa orang jangan merasa harus jalan jauh setiap hari. Berdasarkan konsep tersebut, apakah salah kalau orang tinggal di Depok dan bekerja di Thamrin?
Sebetulnya itu sesuatu yang salah. Salah satu masalah besar kita dan ini sudah dirasakan secara statistik yaitu migrasi neto masyarakat Jakarta itu negatif sejak 7 atau 10 tahun. Jadi sebenarnya banyak orang yang meninggalkan Jakarta ke Tangerang atau Bekasi, dan itu menimbulkan yang kita sebut dengan kemacetan berulang setiap pagi dan sore yang sifatnya satu arah. Kecenderungan ini masih berlanjut dalam kebijakan, seperti menyatakan Sudirman Central Business District (SCBD) hanya untuk bisnis.

Kami dalam kegiatan imagine in Jakarta punya satu data hasil penelitian terhadap satu perusahaan yang berlokasi di Thamrin-Sudirman. Dari 99 pegawainya hanya satu orang yang tinggal di Thamrin-Sudirman. Sedangkan 98 orang lainnya tinggal di luar Thamrin-Sudirman dengan jarak berkisar antara 5-25 km. Makin rendah jabatan seseorang makin jauh dia tinggal dan ini sebetulnya merupakan paradoks yang sangat memberatkan.

Refleksi yang paling nyata terhadap data tersebut yaitu dengan melihat biaya transportasi. Kalau dihitung terhadap Gross Domestic Product (GDP), biaya transportasi kita mencapai 15 – 19% terhadap GDP. Itu tinggi sekali. Makin miskin seseorang maka makin besar prosentasenya.

Kalau orang memindahkan perusahaannya ke lokasi pemukiman bagus juga dong.
Sebetulnya tergantung jenis perusahaannya. Pada dasarnya kalau kita mengatakan campuran itu artinya harus ada hunian. Misalnya di kota-kota Eropa terutama yang saya tahu di Jerman, sebuah tata kota jelas disebutkan fungsinya adalah hunian dan sesuatu yang lain. Jadi bukan industri. Ini penting sekali bukan hanya untuk mengurangi kebutuhan akan gerak, tapi residensial atau adanya orang berhuni di suatu tempat menjadi motivasi yang sangat penting untuk memelihara kualitas lingkungan.

Kalau begitu kota-kota besar lama di dunia Barat mungkin sudah mulai dengan keparahan itu. Misalnya, kota New York, kalau siang penduduknya 10 juta orang sedangkan kalau malam hanya dua juta orang. Jadi orang tidak menghuni kota itu. Apakah itu maksud Anda supaya orang jangan bolak-balik tapi pada dasarnya berada di satu tempat?
Kota-kota Amerika dan Eropa sudah mengalami berkali-kali siklus orang keluar kemudian dengan kebijakan ditarik masuk lagi. Namun karena perkembangan ekonomi keluar lagi tapi lalu masuk lagi.

Jakarta sekarang ini kalau dikatakan produk dari kesalahan policy, apakah policy tersebut lahir dari orang kita atau suatu gejala kosmopolitan dimana mengikuti trend di seluruh dunia?
Ada gejala yang bersifat universal. Pertama, ada perkembangan teknologi yang memungkinkan orang bergerak jauh. Kemudian ada perkembangan di dalam skala kapital yang menyebabkan orang membuat perusahaan lebih besar, industri lebih besar, bahkan membuat prasarana.

Dulu orang membangun perumahan, misalnya, di Menteng dan paling besar Kebayoran Baru menempel pada kota yang ada. Tapi dengan kemampuan kapital yang ada sekarang ini orang membuat kota baru sama sekali karena dengan skala demikian dia mampu membuat prasarana sehingga tidak perlu tergantung prasarana yang ada, seperti Serpong. Jadi dia menciptakan struktur ruang tersendiri. Itu suatu gejala yang terjadi dimana-mana.Tapi jangan lupa sebetulnya cita-cita awal ketika Bumi Serpong dibangun adalah suatu kota yang mix bukan hanya tempat tinggal. Untuk melawan itu diperlukan kebijakan yang lebih mendasar.

Apakah belum ada kota yang betul-betul menjadi kota mix? Misalnya Cibubur yang secara residensial menarik, apakah sudah ada gejala bahwa kota itu akan menjadi tempat bekerja?
Kalau kita melihat prosentasenya masih sangat kecil, terutama masih residensial dan sebagian besar penduduknya masih harus pergi ke Jakarta.

Apakah masih harus diatasi dengan menyuruh orang mendengarkan wawancara Anda, atau bisa dengan ada peraturan yang mengarah ke sana, atau salah jika memakai peraturan untuk memaksa orang?
Menurut saya tidak salah untuk social enginering dengan kebijakan karena ini berkaitan dengan keberlanjutan sistem responsibility jangka panjang. Makin kita menimbulkan pergerakan, makin menimbulkan polusi, kita makin tergantung kepada teknologi, lalu itu semua mempunyai dampak terhadap lingkungan. Sebuah kota yang kompak dengan sendirinya akan mengurang pergerakan, mengurangi polusi, dan mengurangi dampak terhadap lingkungan. Secara jangka panjang itu akan dibetulkan. Ada soal keadilan juga. Kita menghadapi kenyataan bahwa ketergantungan pada teknologi mempunyai biaya dan itu makin sulit bagi masyarakat miskin.

Mengenai soal teknologi, Anda mengatakan suatu saat orang tinggalnya jauh karena teknologi memungkinkan orang jalan jauh. Maksudnya, kalau dulu orang harus jalan kaki atau naik kuda sekarang bisa naik mobil dan tinggalnya di Cibinong. Tapi sekarang ada teknologi baru juga ada internet dimana orang juga mau tinggal jauh atau dekat sama saja bisa bekerja. Apakah Anda melihat ada sesuatu perubahan pola di sini?
Ini memang sudah dibaca oleh beberapa orang seperti Castel atau beberapa penulis lain dengan mengatakan itu satu potensi. Tapi saya belum membaca suatu studi yang benar-benar nyata. Hanya sebagian kecil.

Anda sering mengatakan seperti di sampul buku Anda bahwa Jakarta itu suatu kota besar metropolis yang menawarkan kesempatan kosmopolitan. Pengertian kosmopolitan sama dengan internasional, global, keadaan yang sama ditawarkan di Jakarta seperti di kota lain. Ada yang mengatakan kalau kita terlalu kosmopolitan, kita mengingkari kenyataan dalam negeri. Ada yang mengatakan itu mengilhami karena belajar dari kesalahan. Menurut Anda, apakah pemikiran kosmopolitan itu merugikan atau menguntungkan?
Kosmopolitanisme adalah suatu kenyataan bukan soal menolak. Tapi kemudian mengapa penting kata isme dalam kosmpolitan karena kita dapat mengembangkan berbagai visi yang berbeda terhadap kenyataan kosmpolitan itu. Selain definisi dari Pak Wimar tadi bahwa ada kesamaan dimana-mana, kosmopolitanisme yang saya maksud adalah terutama sikap atau kemungkinan atau potensi untuk bersikap terbuka terhadap segala hal yang ada di dunia. Itu karena dari kata cosmos, pandangan luas.

Sebetulnya itu selalu merupakan ciri sebuah kota sejak dulu. Banda Aceh di abad 17 sudah sangat kosmopolitan karena di abad ke 17 mengirim duta besar ke Inggris, menerima duta besar dari Belanda. Jadi merupakan kenyataan yang tidak dapat ditolak. Persoalannya adalah bagaimana kita mengembangkan sikap itu. Jangan lupa ekstrimitas, misalnya, Pan-Islamisme adalah juga kosmopolitan. Jadi tergantung bagaimana kita mengembangkan sikap. Menurut saya, sikap yang benar adalah bagaimana mengambil manfaat yang baik, misalnya, standar-standar kehidupan universal dan baik.

Jadi kalau Jakarta payah dalam beberapa hal, atau tidak bagus, atau rusak bukan karena pengaruh luar dan keterbukaan terhadap pengertian luar?
Keterbukaan tidak bisa dihalangi, tergantung dari diri kita sendiri menghadapi seleksi dan pengembangan sikap. Dalam mengembangkan sikap, kita tidak bisa melupakan kenyataan kita sendiri. Justru salah kalau kita mengembangkan sikap yang sifatnya reaktif terhadap keterbukaan tanpa berdasarkan kenyataan kita sendiri. Saya melihat di situ tidak ada kontradiksi antara identitas diri sendiri dengan kenyataan.

Kembali dalam hal yang konkrit. Saya mendapatkan oleh-oleh dari Bung Marco yaitu peta yang sangat menarik yang disebut peta hijau dari berbagai tempat seperti di Jakarta peta Menteng dan Kemang. Kelihatannya sangat unik dan menarik tapi saya belum sempat mempelajarinya. Apa ke khasan peta hijau ini?
Peta hijau pada dasarnya menandai tempat-tempat yang kita anggap mempunyai makna dari segi lingkungan dan kebudayaan dengan sejumlah icon yang standard atau tanda yang diciptakan kira-kira 10 tahun yang lalu. Misalnya, ada icon untuk tempat ramah anak-anak, ada icon untuk ramah orang tua.

Apakah ada juga atau ramah untuk orang yang tidak bisa jalan?
Terus terang kita belum menciptakannya. Yang ada adalah ramah untuk orang tua dan anak-anak karena sebetulnya orangtua dan anak-anak mempunyai keterbatasan dalam kemampuan fisik. Tapi juga ada yang bersifat positif misalnya dimana Anda bisa mendapatkan rumah makan vegetarian.

Apakah usaha yang Anda lakukan sebagai advokasi tersebut laku secara komersial?
Kita sudah jual secara komersial di toko buku Aksara. Tapi secara komersial tersebut dalam tanda petik karena toko buku Aksara sama sekali tidak mengambil prosentase.

Bagaimana dampak dari usaha Anda tersebut di Indonesia, apakah orang makin sadar atau seperti kata orang yaitu masuk kuping kiri lalu keluar kuping kanan?
Terus terang kami masih mengalami kesulitan untuk mengukur dampak.

Mungkin untuk ukuran amatiran yang saya gunakan, apakah setiap hari Anda makin pesimis, atau tetap semangat, atau makin semangat?
Saya makin bersemangat kalau ditanya seperti itu karena gerakan ini kemudian menyebar. Kesekretariatan Pemeta Hijau Indonesia di Jogja kuat sekali. Juga ada kesekretariatan di Aceh dan Buton

Apakah ada websitenya?
Kalau website internasional adalah http://www.greenmap.org. Kalau Indonesia yaitu http://www.greenmap.or.id.

Apa yang Anda lakukan dalam upaya mengundang partisipasi orang yang bukan ahli dalam perkotaan untuk green map atau usaha Anda yang lainnya seperti untuk meramahkan kota?
Ada beberapa yang saya lakukan. Pertama, dengan peta hijau. Peta hijau sebenarnya diciptakan justru untuk orang awam, untuk memungkinkan interaksi antar berbagai orang dengan berbagai latar belakang. Prosesnya memang dimaksudkan separtisipatif mungkin. Biasanya kita kalau membuat peta hijau di suatu tempat kita mencari sebuah ruangan di tempat itu sebagai sekretariat.

Misalnya kalau kita membuat peta hijau Jakarta-Kota, kita berusaha mencari ruangan sekretariat di situ. Kemudian mengundang orang berpartisipasi dalam berbagai cara dan secara langsung ikut atau menghadiri presentasi kita. Itu adalah bentuk pertama. Kemudian cara lain yang saya lakukan adalah yang disebut kegiatan imagining Jakarta atau membayangkan Jakarta. Ini adalah kerjasama antara arsitek dan para seniman untuk melihat Jakarta secara lebih imajinatif dan lebih non teknis.

Apakah itu ada pijakannya terhadap realitas atau hanya utopia saja?
Sangat berpijak pada kenyataan. Tadi saya menyampaikan riset kita tentang data yang sangat konkrit seperti satu perusahaan dengan 99 pegawai. Kita survey betul dimana mereka tinggal karena ide dibelakang itu adalah kota harus direncanakan dengan memperlakukan penghuninya benar-benar sebagai pemakai atau user yang tidak hilang di dalam statistik besar tetapi secara sangat nyata.

Ditulis dalam +RAGAM. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Hilangkan Pembagian Wilayah Kota”

  1. Nina Samidi Says:

    Dear Peta Hijau,
    Saya Nina dari majalah AREA. Apakah saya bisa minta contact person yang bisa menghubungkan saya ke Marco Kusumawijaya? Saya ingin mewawancarai beliau untuk Feature di AREA. Mohon mengabari segera, bisa via sms ke 0817.078.1719. Terima kasih! Saya tunggu paling lambat Jumat, 15 Des 06, ini.🙂 nina

  2. Peta Hijau Says:

    @Nina Samidi

    Anda bisa menghubungi Bp. Marco Kusumawijaya di e-mail marcokw@centrin.net.id. Saya akan informasikan juga ke beliau langsung.

    Salam,

    Elanto Wijoyono


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: