Pertanian Kota

Segera setelah krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1997-1998, bentang alam kota Jakarta berubah. Tiba-tiba lahan kosong ditanami berbagai sayur-sayuran yang cepat menghasilkan. Lahan bakal jalon tol yang tertunda pembangunannya sejak tahun 1995 di dekat rumah saya dipenuhi bayam dan chaisim. Begitu juga beberapa lahan kosong di tengah pusat kota Jakarta. Di beberapa lingkungan perumahan, tiba-tiba beberapa anggota kelas menengah mendapatkan tawaran sayur-mayur segar dari blok tetangga. Ingatan ini segar di benak saya karena saya secara langsung juga mendapat permintaan sumbangan “investasi” untuk beberapa teman muda, seniman, penulis dan mahasiswa lulusan baru yang tidak mungkin mendapatkan pekerjaan di saat-saat krisis itu. Mereka bercocok tanam di lahan-lahan kosong, termasuk tanah-tanah orang tua mereka yang belum sempat dibangun. Ada juga lahan-lahan yang secara tradisional telah digarap, seperti misalnya tepian sungai, kini menjadi lebih intensif. Para pemeta hijau Menteng, yang dengan perahu karet menyusuri segmen sungai Ciliwung yang melewati Menteng, menemukan lebih dari seratus titik pertanian kota ini pada tahun 2003-2004.

Saya pun menulis di media massa, memohon perhatian pemerintah, karena secara otentik tiba-tiba menyadari pentingnya pertanian kota. Pada saat itu saya buta sekali tentang soal ini karena baru pertama kalinya mengalami hal ini. Tetapi, titik itu menjadi awal saya terus berupaya mencari tahu.

Oleh sebab itu, saya merasa beruntung berada di World Urban Forum III bulan Juni lalu di Vancouver. Lembaga yang menjadi sponsor saya ke sana, yaitu International Development Reserach Centre (IDRC), Canada, ternyata telah lebih dari 30 tahun menjadi pendukung gerakan pertanian kota, atau Urban Agriculture (UA). Ada diterbitkannya sebuah buku oleh Luc Mougeot, “Growing Better Cities, Urban Agriculture for Sustainable Development”, 2006. (Lihat http://www.idrc.ca/books ).

Ternyata ironisnya adalah bahwa pertanian kota justru jauh lebih maju di negara-negara maju di Utara, ketimbang di negara-negara Selatan, yang justru lebih memerlukannya. Baru 15 tahun terakhir ini ada kemajuan cukup di kota-kota di Selatan, terutama di Afrika dan Amerika Latin.

Di Inggris sudah ada undang-undangnya pada tahun 1925 dan Canada 1924-1947. Memang dimulainya sebagai cara mengatasi kesulitan pangan di masa krisis ekonomi juga. Kini kota-kota seperti Amsterdam, London, Stockholm, Berlin, Montreal, Toronto, dan New York sudah meresmikannya dalam berbagai cara berbeda di dalam perencanaan kota dan tata guna lahan perkotaan mereka. Di Indonesia, tentu saja bahkan belum masuk sebagai suatu “kategori” guna lahan perkotaan yang resmi. Pertanian Kota (PK) di negeri sedang berkembang karena “post-poverty syndrom” (suatu istilah yang saya pinjam dari Sdr. Bre Redana dari Harian KOMPAS dalam pertemuan baru-baru ini) cenderung menganggap PK sebagai masalah, sebagai sisa-sisa ketertinggalan, sebagai akibat dari tidak terselesaikannya kawasan pedesaan.

Namun, nyatanya PK tetap ada, bahkan di kota-kota negara maju sekalipun. Makin cepat suatu kota mengakuinya dan memasukkannya di dalam perencanaan tata ruangnya, makin cepat mereka merasakan manfaatnya.

Kini PK dihubungkan dengan cara-cara kota mengurangi ecological footprint-nya, membantu keluarga miskin menambah penghasilan dan makanan segar, serta meningkatkan keamanan makanan di banyak kota. PK juga menghasilkan tanaman hias serta mengindahkan lahan-lahan terbengkalai kota. Dengan pemberdayaan masyarakat penggarap maka PK pun menjadi sarana pembangunan modal sosial. Di Vancouver saya mengunjungi komunitas kelas menengah yang bahagia menggarap lahan nganggur sepanjang jalan kereta api. Di dekatnya ada suatu pusat informasi dan pelatihan pertanian organik. Saya makan asparagus segar yang langsung dipetikkan di hadapan saya. Rasanya segar dan sangat manis. begitu juga daun selada. Selain itu, ibu-ibu menanam juga tomat dan bunga-bungaan.Di pusat ini mereka juga belajar membuat kompos dan bertukar species tanaman.

Mungkin, sambil menunggu pemerintah yang ndablek, dengan pengaruh imajinasi para elit OKB yang terkena sindrom modernistik “post poverty”, kita bisa mulai di rumah masing-masing?

Semak sereh bisa mengusir nyamuk dan dapat pula dipanen untuk menyedapkan wedang, membuat sate Bali, serta masakan lainnya. Lalu ada banyak buah dan bunga yang bisa menghasilkan juga, setidaknya untuk kebutuhan sendiri (mungkin lama-lama bisa dijual ke tetangga). Kalau suka wangi-wangian, coba lavender (yang telah saya coba ternyata memang menyingkirkan nyamuk juga), kanthil, cempaka atau jeumpa dari Aceh. Tidak hanya bisa di halaman, tapi bisa juga di atap rumah atau di balkon apartemen, misalnya dengan teknik hidrofonik. Beberapa jenis sirih bisa ditanam merambati pagar kawat transparan (sehingga tidak harus ditemboki tinggi-tinggi). Kalau digabungkan dengan membuat kompos (untuk ini ada banyak teknik sederhana) maka sekitar 80 % sampah kita akan menjadi pupuk organik untuk tanaman-tanaman itu.

Salam hijau,

Marco Kusumawijaya

6 Tanggapan to “Pertanian Kota”

  1. Probo Hindarto Says:

    Saya sangat tertarik karena Pak Marco mulai menuliskan pemikirannya dalam bentuk website yang mudah diakses seperti ini… Salut! saya baru tahu dari milis AMI.
    Untuk memahami pemikiran Anda, saya memerlukan waktu (oh saya terkesan dari sekali saja membuka website ini) dan … saya ingin selalu terus membuka website Anda ini pak MArco. Selamat atas dibukanya websitenya.

  2. Marco Kusumawijaya Says:

    Terima kasih kepada Sdr Probo Hindarto yang meluangkan waktu membaca “Pertanian Kota”. Saya harapkan juga pemikirannya. Semoga Catatan-catatan Hijau berikut terus dibaca oleh Sdr. Probo Hindarto, dan sempat memberikan pemikirannya juga.
    Salam hormat,
    Marco

  3. Muhammad Sani Roychansyah Says:

    Pak Marco,
    Salam kenal. Iya saya mendukung wacana PK ini. Tentu terus diiringi dengan restriksi lahan hijau di seputaran kota/desa agar tidak beralih fungsi. Di sebelah Roppongi Hills saja orang Jepang masih bisa panen padi kan ya. Maju terus “Green Movement”! Salam, Sani (saniroy.wordpress.com)

  4. Marco Kusumawijaya Says:

    Terima kasih Sani.
    Betul, saya juga melihat di Nagoya dan Kyoto yang sempat saya kunjungi Agustus 2005 bersama pemeta hijau Jogja, Joy.
    Kita perlu membuat kebijakan untuk mendukung pertanian kota, dan melakukan pengorganisasian para pelakunya supaya bisa mendorong kebijakan itu dirumuskan.
    Bagaimana menurut Anda?

  5. Muhammad Sani Roychansyah Says:

    Pak Marco,
    Idealnya dibawa ke tataran “kebijakan”. Tapi minimnya contoh kongkrit yang berhasil di negara kita, tentu akan membuat masyarakat/pemerintah ragu (meski sadar PK itu penting). Saya sedang mencari data2 ini di Jepang, terutama klaim manfaat dari gerakan ini.

  6. a.rachmaniar Says:

    trimakasi pak…. wawasan saya jadi bertambah… semoga bapak mendapat amal pahala … amin…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: