Bangkok, Thailand, 23-28 September 2006

Tanggal 23, empat hari setelah coup d’etat tak-berdarah–setidaknya hingga hari ini–saya mendarat di Bangkok. Ada lokakarya peta hijau yang diselenggarakan oleh Thai Environment Institute (TEI) untuk sekitar 230 orang, terdiri dari 60 % guru sekolah dan 40 % pejabat kotamadya dari 46 kota atau kabupaten di Thailand. Saya menjelaskan pengalaman Indonesia.Ini adalah bagian dari program TEI tentang penghematan energi. Mereka ingin menggunakan peta hijau sebagai metode untuk mengenali potensi dan masalah lingkungan setempat. Selanjutnya ada lokakarya tentang mind-map (peta batin) yang digunakan untuk mengenali kehendak kolektif, yang digunakan untuk membentuk visi masa depan. Atas dasar peta hijau dan peta batin itu, kemudian akan disusun rencana aksi strategis. Peta hijau memberikan gambaran tentang ‘strategic situation‘, sedang peta batin tentang ‘strategic vision‘. Untuk mencapai ‘strategic vision‘ diperlukan ‘strategic action (plan)‘. Baca entri selengkapnya »

Iklan

DWIPEKAN PETA INDONESIA 2006

16 September 2006 s.d 1 Oktober 2006

Pameran dan Lelang 201 item peta historis dan tematik berbagai kawasan dalam wilayah Nusantara (sejak periode Netherland East Indie hingga periode Indonesia), akan dilangsungkan di Jakarta selama 15 hari, 16 September – 1 Oktobre 2006, sebagai rangkaian acara dalam kegiatan DWIPEKAN PETA INDONESIA 2006. Peta  koleksi edisi asli (bukan versi reproduksi baru) yang dicetak handpress dan offset printing pada kertas gulungan berukuran 43x50cm hingga 65×95 cm (sekitar 60 item dicetak pada kertas bertanda air Padalarang atau Gederland). Data survey lapangan dilakukan dengan menggunakan alat-alat ukur terestris atau mekanik-semiotomatik, sementara proses pengolahan data dilakukan dengan bantuan pemotretan udara dan interpretasi visual. Baca entri selengkapnya »

Kota dan Perubahan Lingkungan: Sketsa Menuju Keberlanjutan

Kota adalah gejala yang relatif baru dalam sejarah bumi. Namun, sejarah kota, yang murni karya manusia dan yang singkat ini, mempengaruhi perubahan yang mendalam dan menggetarkan, baik pada manusia maupun bumi, yang tidak pernah dialami dalam sejarah bumi yang begitu panjang sebelumnya, kecuali yang disebabkan oleh bencana-bencana kosmik. Lebih dari itu, lebih penting dari itu, kota yang sejarah masa lalunya baru singkat ini tampaknya akan memiliki sejarah masa depan yang panjang, dan bahkan menguasainya.

Perubahan dalam dua atau tiga abad terakhir saja oleh ulah manusia melebihi perubahan-perubahan di masa sebelumnya. Manusia membangun “kota” —pun dalam pengertian yang sangat sederhana— baru beberapa ribu tahun saja sebelum masehi, terutama di tempat-tempat “cradles of civilizations” (China, India, kawasan di sekeliling Laut Tengah). Alangkah tidak berartinya beberapa ribu tahun dibandingkan umur manusia yang beberapa puluh ribu tahun manusia modern, beberapa ratus ribu tahun manusia purba, atau beberapa puluh juta tahun dinosaurus. Baca entri selengkapnya »

Green Maps: A Route to Eco Living

By Karin Kloosterman

The Green Map System, founded in 1995, gives us another way of looking at our world. It is a global word-of-mouth database, which can help us locate and take note of green, sustainable components in our communities.

The system doesn’t just map out the streets, shopping malls and points of historical significance deemed worthy by our governments.

Instead, it provides a self-portrait of cities and communities: functioning as a way for individuals to document places of ecological importance and value.

At the same time, it gives community members the forum for promoting issues and concerns that are otherwise being overlooked.

On such a map, you could read that in Tel Aviv, Revital’s favourite spot is under a one-hundred-year-old Eucalyptus tree in the Neve Zedek neighbourhood. Knowing this, another member of the community who lives across the street from the tree, could notify the mapmaker, a volunteer overseer of a local map, that construction plans for the area threaten to have the old tree cut down. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam +RAGAM. Leave a Comment »

Green Map System Boyongan!

kantor gms

Boyongan alias berpindah tempat selalu menjadi pengalaman yang melelahkan, sekaligus juga menyegarkan! Pengalaman ini baru saja dirasakan oleh para pegiat Peta Hijau di New York, Amerika Serikat, saat memindahkan kantor mereka yang selama ini menjadi pusat koordinasi jaringan Peta Hijau se-dunia (Green Map System-GMS) ke gedung yang beralamat 220 E 4th Street, New York, 6 blok dari kantor lama. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam +GMS. Leave a Comment »

Desa dan Kota Wartijah

Di Ubud kemarin, sosiolog Thamrin Tomagola dari Universitas Indonesia melihat bahwa desa-desa dan kota-kota yang lebih kecil menjadi planet-planet di dalam orbit yang berpusat pada kota-kota besar. Pada hari yang sama, Abidin Kusno, peneliti dan pengajar di University of British Columbia, Vancouver, Canada, menerangkan salah satu konsepsi ruang yang terus-menerus berulang dalam sejarah Indonesia, ialah suatu ruang “kosmologis” dengan hegemoni pusat (-pusat). Saya pun teringat bagaimana hal yang analogis diterangkan dalam ekologi dengan konsep ecological footprint.

Kami semua sedang di Ubud menemani Urban Poor Linkage, jaringan kaum miskin kota nasional Indonesia yang diprakarsai oleh Urban Poor Consortium, merumuskan rencana kerja mereka selama beberapa tahun ke depan. Baca entri selengkapnya »

Taman Sari, Banda Aceh, 3 September 2006

Rekonstruksi Aceh mulai melewati batas “membangun kembali.” Hal-hal yang tidak pernah ada sebelum tsunami pun ada yang dibangun. Padahal, tugas pokok membangun kembali apa yang pernah ada, terutama rumah untuk rakyat, masih jauh dari selesai. Di Kabupaten Aceh Jaya (Calang dan sekitarnya) misalnya, belum sampai 10 % rumah yang diperlukan selesai dibangun kembali.

Sementara itu, di Taman Sari sedang dibangun sebuah fasilitas hiburan yang antara lain terdiri dari restoran. Fasilitas ini sebelumnya tidak ada di Taman Sari. Taman Sari adalah sebuah taman memanjang di sebelah selatan halaman Masjid Baiturahman di Banda Aceh. Dulu di taman ini ada hotel tempat Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh pengusaha Aceh. Kabarnya, ketika itu Bung Karno yang berpakaian perlente ditemani rombongan yang berpakaian tidak se’netjes’ dirinya, sehingga para pengusaha segera menyuruh para penjahit membuatkan pakaian yang lebih pantas untuk mereka semua.
Baca entri selengkapnya »