Taman Sari, Banda Aceh, 3 September 2006

Rekonstruksi Aceh mulai melewati batas “membangun kembali.” Hal-hal yang tidak pernah ada sebelum tsunami pun ada yang dibangun. Padahal, tugas pokok membangun kembali apa yang pernah ada, terutama rumah untuk rakyat, masih jauh dari selesai. Di Kabupaten Aceh Jaya (Calang dan sekitarnya) misalnya, belum sampai 10 % rumah yang diperlukan selesai dibangun kembali.

Sementara itu, di Taman Sari sedang dibangun sebuah fasilitas hiburan yang antara lain terdiri dari restoran. Fasilitas ini sebelumnya tidak ada di Taman Sari. Taman Sari adalah sebuah taman memanjang di sebelah selatan halaman Masjid Baiturahman di Banda Aceh. Dulu di taman ini ada hotel tempat Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh pengusaha Aceh. Kabarnya, ketika itu Bung Karno yang berpakaian perlente ditemani rombongan yang berpakaian tidak se’netjes’ dirinya, sehingga para pengusaha segera menyuruh para penjahit membuatkan pakaian yang lebih pantas untuk mereka semua.

Hotel bersejarah ini sudah tidak ada. Sebelum tsunami sebuah hotel lain sedang dibangun menggantikannya. Yang terlihat sekarang adalah tiang-tiang pancang di ujung utara taman yang dekat masjid. Fasilitas baru dengan restoran itu sedang dibangun –mendekati selesai– di dekat ujung selatan taman.

Tiba-tiba saya mendapat tahu bahwa arsitek yang merancang fasilitas itu –sebuah bangunan berbentuk setengah lingkaran, seperti bulan sabit– sedang duduk di sebelah saya.

Dia mengatakan, “Taman itu sejak dulu tidak berfungsi; tidak ada orang masuk menggunakannya karena tidak ada yang menarik di dalamnya. Kalau menunggu pohon-pohon dan tanaman sebagai daya tarik, akan lama sekali. Jadi, lebih cepat kita menanam daya tarik lain berupa gedung fasilitas.”

Saya tertegun karena dua hal.
Pertama, adanya penggunaan kata “menanam” yang berbeda. Licik juga arsitek ini menggunakan metafor “menanam” itu.
Kedua, semudah itu seorang arsitek mengambil keputusan mengisi ruang terbuka hijau. Tentu saja sebenarnya ini bukan keputusannya, melainkan keputusan walikota yang meminta bantuan kepada sebuah LSM, yaitu Catholic Relief Service (CRS) yang terkenal murah hati dan banyak uang. Arsitek itu, yang ketika itu baru beberapa tahun lulus sekolah, hanya senang mendapat kesempatan.

Saya pikir, sebenarnya saya tidak tahu benar tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan. Saya hanya masih heran tentang seberapa enteng sebenarnya suatu keputusan boleh diambil tentang mengisi ruang terbuka hijau, “menanamnya” dengan sesuatu yang sama sekali tidak organik, mengurangi fungsi lingkungannya, dan tiba-tiba mengubah struktur makna yang ada padanya tanpa banyak bertanya kepada sejarah, kepada alam, dan kepada masyarakat. Apakah sebuah ruang terbuka hijau harus “dimasuki” dan “digunakan” untuk benar bermanfaat bagi masyarakat? Apakah kekosongan selalu harus diisi?

Marco Kusumawijaya

9 Tanggapan to “Taman Sari, Banda Aceh, 3 September 2006”

  1. andre Says:

    ya, maklumlah, sudah mendekati 2 tahun setelah tsunami,
    sementara masih banyak dana utk dihamburkan, daripada dibawa pulang bule2 itu =)
    begitu bukan pak walikota?

  2. Uli R Says:

    sebagai orang Aceh dan mahasiswa Arsitek saya juga sangat prihatin dan heran dgn keputusan membangun gedung tingkat tinggi hingga 6 tingkat didalam Taman Sari tersebut, karna didalamnya banyak sekali peninggalan sejarah yang harus dilestarikan, diantaranya yang bisa kita lihat pada Peta Hijau Kenangan Tsunami Banda Aceh yaitu sebuah ruang terbuka hijau dan di dalamnya terdapat banyak fasilitas peninggalan bersejarah yg harus dilestarikan yg tentunya pada zaman dahulu banyak pertumpahan darah untuk mendirikan monumen tersebut, yang samapai saat ini saya belum tahu kelanjutannya apakah monumen itu tetap dipertahankan atau dimusnahkan. apakah… begitu mudahnya seorang Arsitek tersebut membangun gedung tingkat tinggi di dalam taman kota yg kecil tersebut & bagaimana kelanjutan taman-taman yang ada di Banda Aceh tsb. Kelak siapakah yg akan membudidayakan dan melestarikan warisan nenek moyang yang dimiliki oleh rakyat Aceh kalau setiap monumen yg sedikit terhempas oleh tsunami langsung dibangun oleh bangunan modern bertingkat tinggi??

  3. Marco Kusumawijaya Says:

    Andre dan Uli yb.
    terima kasih atas tanggapannya.
    Bagaimana kalau arsiteknya diundang diskusi agar kita tahu duduk soal sebenarnya?
    Kota-kota kita hanya dapat berkualitas kalau ada proses pertukaran pikiran, sehingga apapun yang dibuat, sudah melalui pergelutan dulu.

    Salam,

    Marco

  4. Cut Dewi Says:

    Sebagai seorang arsitek yang sedang mendalami environmental and infrastucture planning, kebetulan saya mendalami infrastructure yg berhubungan dgn tourism and heritage, sangat terketuk pintu hati saya untuk memberikan comment. Saya sangat tidak menyangka “taman sari” berubah fungsi, saya baru tahu dari tulisan Bung Marco ini, kebetulan pasca tsunami saya meninggalkan Banda Aceh untuk sekolah. Mengapa harus diisi dengan tidak semestinya? mengapa tidak mengkonservasi? masih kurang puas sepertinya memusnahkan saksi sejarah. Apa yang ingin kita tinggalkan untuk generasi mendatang? Modern Architecture? yang akan membuat kita kehilangan identity. Saya rasa bukan itu. Semoga semakin banyak orang sadar untuk memelihara heritage, apa pun bentuk nya,re use boleh saja tapi jangan mengubah identitynya.
    Bung Marco bagaimana kalo kita budayakan sepeda lagi sebagai moda transportasi? sebelum Banda Aceh ini berubah jadi Kota dengan populasi tinggi seperti Jakarta, Medan, dll. Ruang terbuka hijau yang cukup akan mampu memberi kenyamanan bagi pengguna sepeda, ditengah panasnya suhu Kota Banda Aceh Pasca Tsunami. Mungkin itu hanya ada dalam impian saya saja, pohon2 besar kembali ada, jalur sepeda, heritage terpelihara dengan baik (bisa saja di conserve total atau re use), pariwisata berwawasan islami berkembang di Banda Aceh. Namun bisa aja ini juga mimpi beberapa orang…

  5. feBby Says:

    saya menganggap bahwa bangunan yang ada di taman sari tersebut ga sepantasnya dibangun.. kalo semua ruang hijau di banda aceh di bangun bangunan gede gitu…wadoooH tambah panas aj kota Q ini..
    banda aceh tu udah cukup minim ruang hijaunya lantaran abis dibangun bangunan2 masif.. mestinya bapak walikota bisa merasakannya…jangan mentang2 proyek sumbangan NGO trus langsung dianggap mubazir untuk disia-siakan..napa ga dipertimbangkan dulu seEh?
    moga aj tujuan arsitek nya buat bikin taman ini lebih sering dikunjungi masyarakat bisa terlaksana ya.. klo ga tambah sia2 aj deh…

  6. roni hariza Says:

    salam untuk semua pembaca…
    hormat saya juga untuk saudara marco.

    saya seorang mahasiswa arsitektur aceh. saya rasa ada dua polemix yang terjadi pada renovasi Taman Kebanggaan Masyarakat Aceh ini. yang pertama, melihat antusiasme mayarakat aceh atau bahkan wisatawan luar terhadap fungsi baru taman sari ini sangat lah tinngi, hal ini membentuk sebuah pikiran bahwa ruang terbuka yang terdapat berbagai fasilitas seperti area pameran, taman bermain anak dan kemudahan akses internet memang diperlukan saat ini di kota banda aceh, dari kondisi ini saya dapat menarik kesimpulan bahwa Aceh memang memerlukan kawasan yang bernuansa “ceria” layaknya taman sari.
    namun di sisi lain, keberadaan taman sari justru membuat situs sejarah yang memang sudah dikenal melekat di kebudayaan aceh luput dari perhatian dan semakin terlupakan… ditambah lagi kondisi taman sari sendiri yang semakin gersang semakin menambah rentetan persoalan yang dimiliki taman yang menjadi halaman kantor walikota ini. kondisi ini perlu mendapat perhatian pihak2 yang berkompeten…

  7. myna agustina Says:

    kalau melihat kota2 lain di Indonesia, sepertinya kota banda aceh sangat kekurangan ruang publik. saya sangat tidak setuju mengenai pembangunan gedung di taman sari yang memiliki nilai sejarah. menciptakan sesuatu yang menarik tidak harus menambah lahan terbangun kan, kenapa harus menambah jumlah lahan terbangun di atas lahan yg seharusnya dijadikan RTH (taman sari tercinta)? ayo jalankan 30% RTH dari kota sesuai UU penataan ruang No.26 thn 2007. sepertinya kita bisa belajar dari kota surabaya yg saat ini dinilai cukup berhasil dalam menambah uang publik.

  8. Makmur Dimila Says:

    Sayang ya kalau Kota Madani terus ditancapkan gedung2 di ruang publik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: