Desa dan Kota Wartijah

Di Ubud kemarin, sosiolog Thamrin Tomagola dari Universitas Indonesia melihat bahwa desa-desa dan kota-kota yang lebih kecil menjadi planet-planet di dalam orbit yang berpusat pada kota-kota besar. Pada hari yang sama, Abidin Kusno, peneliti dan pengajar di University of British Columbia, Vancouver, Canada, menerangkan salah satu konsepsi ruang yang terus-menerus berulang dalam sejarah Indonesia, ialah suatu ruang “kosmologis” dengan hegemoni pusat (-pusat). Saya pun teringat bagaimana hal yang analogis diterangkan dalam ekologi dengan konsep ecological footprint.

Kami semua sedang di Ubud menemani Urban Poor Linkage, jaringan kaum miskin kota nasional Indonesia yang diprakarsai oleh Urban Poor Consortium, merumuskan rencana kerja mereka selama beberapa tahun ke depan.

Kami semua sebenarnya hanya tergugah oleh kisah nyata seorang Wartiyah, 43 tahun, yang kini tinggal di bawah jalan tol Penjaringan, Jakarta Utara. Wartijah menjalani migrasi desa-kota bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Di desa tidak ada pekerjaan yang cukup menghasilkan. Di kota (Jakarta) tidak ada tempat tinggal “formal”, sehingga dia digusur berkali-kali. Tragedi terakhir adalah bahwa rumahnya di desa pun digusur oleh proyek normalisasi sungai. Dia mengarungi ketidakpastian kehidupan di dalam dan di antara kota dan desa berulang-ulang kali sebelumnya karena ada sumberdaya-sumberdaya berbeda yang hanya dapat diperoleh di desa atau di kota. Namun, keadaan terakhir, yaitu ikut tergusurnya rumah di desa, memaksanya untuk “selama”nya membangun kehidupan di Jakarta, tempat ia kini bekerja sebagai penjahit, membesarkan lima anak — satu anak dari suami pertama yang diceraikannya karena melakukan kekerasan dan berselingkuh di depan matanya dan empat anak dari suami kedua– dan sibuk menyiasati serba ketakpastian kehidupan kota: Bagaimana mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa KTP? Bagaimana mendapatkan pesanan jahitan tanpa ada hubungan kontrak yang jelas atau hitam atas putih? Bagaimana menyekolahkan lima anak tanpa tempat tinggal yang layak untuk belajar?

Abdoumaliq Simone, pengajar dari Goldsmith University, London, juga di hari yang sama, pada tanggal 9 September 2006, memaparkan keadaan serba ketidakpastian itu dengan beberapa konsep dan dalam perspektif yang memikat. Ia gunakan kata “cityness” (kekotaan?) untuk merangkum apa yang dia anggap sebagai hakekat kota: ketiadaan pola hubungan yang tetap di dalam ruang yang padat dengan keserbaadaan (plenitude). Di dalam keadaan demikian selalu ada pihak tertentu yang memiliki kapasitas untuk mengendalikan keadaan itu, dengan rencana, dengan membangun prasarana, dengan menetapkan tata-guna lahan, dan lain-lain, yang sebenarnya berarti mengucilkan kekotaan tersebut karena mereka ingin keluar darinya, atau sekurang-kurangnya mengendalikan dampaknya terhadap kehidupan mereka yang ingin dibuat lebih pasti. Wartiyah mewakili sebagian besar orang, tetapi dalam intensitas yang paling tinggi, yang “tertinggal” di dalam kekotaan itu. Mereka harus melakukan dua hal sekaligus: Menyiasati kekotaan itu sendiri, dan menyiasati atau menelikung upaya-upaya orang-orang berkuasa serta berkemampuan tersebut yang ingin mengucilkan kekotaan.

Tetapi, keserbaadaan di dalam kekotaan itu punya kelenturan tinggi, justru karena ia terus menerus dibentuk dan dibentuk kembali oleh sebagian besar penduduknya. Segala hal dapat diubah bentuk maupun fungsinya untuk hal-hal yang tidak terduga. Kolong tol oleh Wartiyah dijadikan “tempat tinggal”, sementara oleh orang lain dijadikan tempat parkir. Jalan raya menjadi “bank“, tempat orang menukarkan valuta asing. Kolam renang menjadi tempat jagal. Pasar bukanlah sekedar tempat orang dengan maksud tertentu menjual dan membeli barang tertentu. Ia adalah tempat yang penuh dengan percakapan, penuh informasi yang bila dikelola, dikupingi, diseleksi, dikemas, dihubung-hubungkan, serta dapat menjadi kesempatan (emas!) bagi para pialang atau calo.

Wartiyah, untungnya, seperti kita semua, justru hidup dari dan dalam kekotaan yang serba tak tentu tapi padat-raya dengan keserba-adaan itu. Hanya repotnya, kita perlu terus menerus berupaya menyiasati orang-orang yang ingin mengecilkan, mengendalikan, dan memaksa semua itu tunduk pada kepentingannya sendiri karena modal memerlukan kepastian dan kekuasaan memerlukan kejinakan.

Marco Kusumawijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: