Kota dan Perubahan Lingkungan: Sketsa Menuju Keberlanjutan

Kota adalah gejala yang relatif baru dalam sejarah bumi. Namun, sejarah kota, yang murni karya manusia dan yang singkat ini, mempengaruhi perubahan yang mendalam dan menggetarkan, baik pada manusia maupun bumi, yang tidak pernah dialami dalam sejarah bumi yang begitu panjang sebelumnya, kecuali yang disebabkan oleh bencana-bencana kosmik. Lebih dari itu, lebih penting dari itu, kota yang sejarah masa lalunya baru singkat ini tampaknya akan memiliki sejarah masa depan yang panjang, dan bahkan menguasainya.

Perubahan dalam dua atau tiga abad terakhir saja oleh ulah manusia melebihi perubahan-perubahan di masa sebelumnya. Manusia membangun “kota” —pun dalam pengertian yang sangat sederhana— baru beberapa ribu tahun saja sebelum masehi, terutama di tempat-tempat “cradles of civilizations” (China, India, kawasan di sekeliling Laut Tengah). Alangkah tidak berartinya beberapa ribu tahun dibandingkan umur manusia yang beberapa puluh ribu tahun manusia modern, beberapa ratus ribu tahun manusia purba, atau beberapa puluh juta tahun dinosaurus.

Ketika kota-kota mulai berkembang pesat, pada masa yang disebut “axial age”, terjadi kegelisahan spiritual di semua tempat lahir peradaban itu, yaitu sepanjang beberapa abad sejak setengah milenium sebelum Masehi sampai akhirnya muncul agama-agama wahyu (agama-agama Abrahamik). Kekayaan pengalaman dan perenungan spiritual ini terjadi bukannya tanpa sumbangsih dari “kekotaan”. Ialah kepadatan hubungan-hubungan dan pertukaran-pertukaran segala hal, yang terus menerus membuka hubungan-hubungan dan pertukaran-pertukaran baru pula, menimbulkan begitu besar ketidakpastian dan begitu banyak pertanyaan. Buddhisme lahir dari kelana Siddharta di kota-kota di India Utara. Filsafat Yunani muncul dari simposium-simposium (yang semata-mata berarti ngobrol sambil makan-minum) di hunian-hunian kota. Konfusius berpikir dalam kerangka etika sosial yang menjadi penting dan mendesak ketika kekotaan memuncakkan kepadatan hubungan-hubungan sosial.

Di abad-abad kejayaan Islam, kota menjadi tolok-ukur. Pada abad ke-13 -14, hanya ada dua kota yang berpenduduk sekitar satu juta: Baghdad dan Edo. London, Paris, dan lain-lain kota di Eropa ketika itu baru berpenduduk beberapa puluh ribu saja. Ketika memasuki jaman renaissance barulah ukuran kota mengacu kepada “seratus ribu” karena kota-kota besar pada masa itu berpenduduk sejumlah sekitar sekian.

Masa yang menandai pertumbuhan kota-kota secara dramatis tentu saja adalah setelah revolusi industri di abad ke-18. Memang, apalah ada yang tidak dramatis setelah itu? Semua tumbuh pesat, dalam deret ukur (dibandingkan dengan masa sebelumnya): jumlah total manusia, jumlah manusia di kota, pendapatan per kapita, produksi segala hal, penemuan ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta ideologi.

Peradaban kota berubah karena kemungkinan-kemungkinan baru yang intense dan dramatis yang dibawa oleh ilmu pengetahuan dan teknologi—termasuk tentang manusia itu sendiri, baik fisik maupun psikis. Oleh karena itu, di akhir abad ke-19 mulai dirasakan hadirnya manusia baru, “manusia metropolitan” (Georg Simmel, Metropolis and Mental Life).

Proses produksi dan konsumsi mulai mendorong eksploitasi lingkungan yang tidak kepalang. Eksploitasi ini mengandung pula ketidak-adilan, menyerap sumber daya alam dari tempat jauh, dan pada saat yang sama menyebarkan pengetahuan juga ke sana.

Hindia Belanda mengalami ledakan penduduk perkotaan besar di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Setelah menjadi Indonesia, sesudah Perang Dunia ke-2, terjadi lagi perpindahan penduduk dari desa ke kota besar-besaran, sehingga Jakarta bahkan mengalahkan Surabaya, yang sebelumnya lebih besar dalam hal jumlah penduduk.

Kini semua risalah dan laporan badan-badan dunia menyimpulkan: Abad ini Abad Kota, dan mungkin akan begitu seterusnya karena sebagian besar penduduk dunia akan tinggal di kota-kota. Kota-kota ini menyedot semua hal dari sekelilingnya. Suatu konsep yang disebut ecological footprint menghitung berapa luas lahan yang diperlukan untuk menopang segala rupa kebutuhan dari suatu unit kehidupan, seandainya semua itu diterjemahkan menjadi luas tanah. Maka, ecological footprint dari kota-kota seperti London bisa sampai 20 kali luasnya sendiri. Kira-kira itu berarti bahwa kota itu setiap hari mengubah (dalam arti yang luas) wajah bumi seluas 20 kali luasnya sendiri. Ketika sebagian besar (di atas 80 %) manusia tinggal di kota maka muka bumi akan diubah hampir semata-mata oleh, atau setidak-tidaknya dari, kota-kota ini.

Kota-kota membesar melebihi apa yang dapat dibayangkan oleh manusia dua satu abad lalu. Kini ukuran kota sudah mengacu kepada 10 juta (metropolis), atau bahkan 20 juta untuk aglomerasi beberapa kawasan perkotaan yang berdekatan (megalopolis). Meskipun Batavia sudah disebut metropolis di abad ke 18; dan Praha di abad ke 17. Sebagian besar kota-kota besar dan aglomerasinya ini akan berada di negara-negara sedang berkembang.

Apakah kita perlu khawatir dengan soal itu?

Kita sebenarnya tidak perlu khawatir tentang bumi itu sendiri, bila kepentingannya bukan tentang kita, manusia.

Bumi memiliki caranya sendiri dalam memulihkan diri, tidak ada yang dapat menyakitinya. Hanya saja dalam menyembuhkan dirinya itu ia akan memakan korban. Ia berubah, tetapi tidak berarti menjadi lebih buruk, kecuali kalau diukur dari kacamata manusia. Hanya saja setelah perubahan itu ia mungkin menjadi tidak lagi ramah kepada manusia, mungkin lebih ramah kepada sesuatu yang lain.

Ini pengantar yang terlalu panjang untuk mengatakan bahwa, kita perlu mengelola perubahan-perubahan yang terjadi karena kota untuk menyelamatkan spesies manusia sendiri.

Kota-kota kita di masa depan akan menjadi tempat hidup hampir semua umat manusia. Kepadatan tinggi dalam jumlah besar akan mempercepat penyebaran penyakit apa saja. Baik kota itu membesar secara horizontal maupun vertikal, diperlukan teknologi untuk melayani hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya. Sementara, bilamana alam dijauhkan dari kota-kota ini maka akan makin mahal biaya untuk menghidupinya karena mata rantai pelayanan alam kepadanya akan memanjang.

Alam bukan saja menyediakan barang kebutuhan —makanan, minuman, barang tambang, energi– tetapi juga jasa dalam banyak hal: menjaga iklim yang ramah-manusia, mengurai sampah, serta membersihkan air dan udara. Pandangan dominan sekarang adalah bahwa ada barang dan jasa alam yang tidak terbarukan, dan oleh karena itu terbatas. Selain itu, sebagaimana sekarang makin banyak digalakkan dan disarankan, ada yang ”tidak terbatas”, ialah yang terbarukan, misalnya tenaga alternatif (ombak, surya, angin). Strategi dasarnya karena itu adalah kalau bisa memenuhi semua kebutuhan melalui cara-cara yang terbarukan. Sedangkan yang tidak terbarukan sebaiknya dihindari atau dihemat dengan cara-cara kurangi (reduce), daur-ulang (recycle), pakai-ulang (re-use), sambil menolak (refuse) yang tidak perlu.

Untuk mewujudkan hal-hal sederhana itu diperlukan perubahan mendasar pada apa yang di masa depan akan menentukan, menguasai bagian terbesar perubahan muka bumi: kota, ialah pada dirinya sendiri, pada penghuninya, dan cara mengelolanya. Untuk berhasil secara signifikan mengubah diri kita dan rumah-kita bersama, yaitu kota itu, barangkali diperlukan waktu yang memang panjang, tetapi tidak pernah terlalu dini untuk mulai sekarang.

Saya kira kita boleh percaya diri bahwa kita memiliki sebagian kemampuan untuk memelihara muka bumi yang bekelanjutan, melalui kota yang berkelanjutan. Sementara, kemampuan-kemampuan baru akan kita temukan di masa depan dengan memadukan temuan-temuan baru dan kearifan-kearifan dari masa lalu. Pertanian kota, misalnya memadukan kearifan-kearifan dari masa lalu dengan pengetahuan dan teknologi masa kini (dan masa depan!). Dalam perspektif inilah, kita berharap Direktorat Geografi Sejarah dari Direktorat Sejarah dan Purbakala berperan menemukan pelajaran-pelajaran, yaitu kearifan-kearifan dan kesalahan-kesalahan, di sepanjang sejarah lokal nusantara.

Kita semua memerlukan semua pengetahuan yang dapat diperoleh untuk meyakinkan sebanyak mungkin orang, dan para pengambil keputusan, bukan saja mengenai mudharat pilihan buruk dan manfaat pilihan baik, tetapi juga mengenai ada cukup kemampuan dan kemungkinan untuk mencapai yang baik itu, dan tidak perlu takut kepada perubahan yang diperlukan. Diperlukan kemauan politik, ketekunan merumuskan pilihan-pilihan baik, dan kemudian menjabarkannya menjadi praktik yang berkelanjutan.

Bulan Juni 2006 yang lalu saya menghadiri pidato khusus Prof. John Friedman di World Urban Forum, Vancouver. Beliau mengatakan, “Sustainable city is a possible dream; it means city embedded in its region”. Hal itu menegaskan konsepnya tentang kesalingketergantungan dan saling memelihara antara kota dan wilayah, menjadi “city-region” dalam satu kata. Saya hanya teringat kepada yang dekat saja, dari kampung Pak Taufik Abdullah, ialah kata “Nagari”, sama dengan saya teringat kata “tuah sakato” ketika orang mengumandangkan kata “the magic of consensus”.

Yogyakarta, 20 September 2006

Marco Kusumawijaya

(disampaikan dalam Lokakarya “Perubahan Lingkungan dalam Perspektif Sejarah”, Direktorat Geografi Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Yogyakarta, 20-21 September 2006)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: