Bangkok, Thailand, 23-28 September 2006

Tanggal 23, empat hari setelah coup d’etat tak-berdarah–setidaknya hingga hari ini–saya mendarat di Bangkok. Ada lokakarya peta hijau yang diselenggarakan oleh Thai Environment Institute (TEI) untuk sekitar 230 orang, terdiri dari 60 % guru sekolah dan 40 % pejabat kotamadya dari 46 kota atau kabupaten di Thailand. Saya menjelaskan pengalaman Indonesia.Ini adalah bagian dari program TEI tentang penghematan energi. Mereka ingin menggunakan peta hijau sebagai metode untuk mengenali potensi dan masalah lingkungan setempat. Selanjutnya ada lokakarya tentang mind-map (peta batin) yang digunakan untuk mengenali kehendak kolektif, yang digunakan untuk membentuk visi masa depan. Atas dasar peta hijau dan peta batin itu, kemudian akan disusun rencana aksi strategis. Peta hijau memberikan gambaran tentang ‘strategic situation‘, sedang peta batin tentang ‘strategic vision‘. Untuk mencapai ‘strategic vision‘ diperlukan ‘strategic action (plan)‘.

Jadi peta hijau ternyata bisa dijadikan alat yang terpadu dalam proses ‘strategic planning.’ Saya senang berkenalan dengan teman-teman TEI, terutama dari direktorat Grass Root Action Programme yang muda-muda, di bawah 32 tahun, ialah usia project manager yang menangani program energi ini, Nongpal Chancharoen. Sedang Direkturnya, Dr. Paul Chamniern, adalah tokoh yang dikenal luas di dunia internasional dalam memperjuangkan kota berkelanjutan. Dia aktif mulai dalam bidang perumahan, konservasi lingkungan, konservasi pusaka, dan lain-lain, dalam perspektif keberlanjutan. Dia memulai “urban forestry” (lalu menjadi “urban agriculture“) 17 tahun lalu di Thailand.

Thailand adalah sebuah negeri yang basis pertaniannya kuat. Risetnya berbasis pertanian. Tapi ironinya, bahkan di negeri ini, paradigma pemisahan pertanian di desa dan non-pertanian di kota masih berkuasa. Hanya secara perlahan-lahan dan sedikit-sedikit ada pembauran akhir-akhir ini.

Berpikir tentang pemisahan ini, kita tidak dapat tidak berpikir tentang kudeta yang masih hangat itu. Thaksin adalah perdana menteri paling populer sepanjang sejarah Thailand. Suaranya di parlemen 70 % lebih. Basisnya adalah wilayah dan penduduk pedesaan. Dia menyelenggarakan banyak program populis, misalnya kredit ringan, asuransi kesehatan dengan premi 30 Bath (Rp. 10,000), dan lain-lain. Tapi orang kota mengatakan itu tidak realistik, manipulatif, dll. Orang desa ada yang mengatakan ia korupsi tapi menggunakannya untuk orang miskin, semacam Robin Hood (pasca) modern. Kini kekuasaannya diambil oleh sebuah dewan yang terdiri dari orang-orang tua di militer. Perdana menteri baru katanya akan ditunjuk hari minggu ini. Ada beberapa calon, semuanya sudah jelas konservatif.

Maka itu sebenarnya masuk akal rumusan dari teman-teman dari Community Organisations for People’s Action (COPA-THAI), bahwa “Kami tak suka Thaksin, tapi juga tak senang kudeta militer.” COPA-THAI adalah organisasi kaum miskin kota yang utamanya memperjuangkan hak-hak atas tanah dan hunian. Saya menemui mereka di tepi sungai Chaoprayao. Saya kira mayoritas penduduk perkotaan Thailand setuju dengan mereka. Seorang kolumnis di Bangkok Post menulis “Kita ini terus menerus terjepit di antara kaum militier yang konservatif dan para politisi yang serakah. Tapi ketergantungan kita akan kekerasan untuk menyelesaikan masalah adalah masalah yang sesungguhnya.” (Baginya “kudeta” adalah bagaimana pun juga sebentuk “kekerasan”). Saya kira dia lupa menyebutkan raja yang feodal, yang mendasarkan kekuasaannya pada popularitas dan kesetiaan rakyat, yang dipupuk terus melalui program-program khusus kerajaan yang juga tak kurang populisnya, tetapi tidak struktural, karena umumnya bersifat karitas. Program-program kerajaan ini tersaingi oleh program Thaksin. Saya kira, masalahnya lebih sulit dari sekedar Thaksin lawan militer, atau sipil melawan militer. Masalah radikalnya ada pada pertentangan antara gagasan feodalisme dan negara-modern. Saya kira Thaksin bisa saja berhasil dengan perubahan-perubahan mendasar di pedesaan. Setidaknya ia akan menciptakan sikap kritis terhadap efektifitas program-program raja yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak berhasil menghapus kemiskinan di pedesaan, dan cenderung menjadi alat untuk memelihara kesetiaan kepada raja, sengaja atau tidak.

Dalih bahwa konteks Thailand berbeda tidak dapat digunakan secara membabi-buta. Harus jelas bedanya apa. Juga pasti ada hal-hal yang sama. Kudeta adalah kudeta, ialah suatu cara paksa mengambil kekuasaan, dan meletakkannya kepada sejumlah orang yang semata-mata harus dipercayai begitu saja, tanpa ada kesempatan menilik atau menolak. Inilah problematik dasar negeri-negeri Asia Tenggara ini: budaya kekuasaan yang cenderung tak mau kenal batas, dan kekerasan menjadi satu-satunya cara menghentikannya.

Bagaimana dalam keadaan itu kita harus memperjuangkan keberlanjutan yang hijau? Dalam budaya Thailand, selalu muncul satu alternatif ekstrim yang lain: pribadi-pribadi yang menjalani kehidupan seperti pertapa. Chamloong, mantan gubernur Bangkok, misalnya, makan sekali sehari, selalu berpakaian sederhana seperti petani, dan mandi hanya dengan 5 gayung air. Selain itu, ada Persiden TEI, yang kemana-mana naik sepeda. Puteri Raja yang menjadi favorit adalah seseorang yang kesederhanaannya terkenal, meskipun tak dapat dikatakan cantik seperti ratu Sirikit, orang merasakan pancaran ketulusan pada wajahnya yang menyenangkan. Orang-orang, manusia pada umumnya, menghargai kesederhanaan, keberlanjutan dan ke”hijau”an. Tetapi hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan mandiri untuk menjalani kehidupan hijau. Perjuangan “hijau” harus menciptakan situasi yang memudahkan sebanyak mungkin orang untuk menjalani kehidupan hijau. Perjuangan “hijau” tidak bisa menjadi gerakan “kendaraan kecil” (hinayana) yang elitis dan eksentrik, tetapi harus menjadi “kendaraan besar” (mahayana).

Tanggal 28 saya meninggalkan Bangkok melalui Suwarnabhumi, bandar-udara yang baru. Namanya mengingatkan saya akan Swarnadwipa (Pulau Emas, ialah nama yang diberikan kepada Sumatera dulu). Saya kedinginan di bandar baru yang warnanya serba kelabu ini, dari besi dan kaca, dan duduk pula di kursi besi yang kelabu dan dingin. Saya tidak mengerti mengapa para arsitek asing ini, Jahn dan Murphy dari Chicago, menciptakan musim dingin terus menerus di sebuah negeri tropis. Ruang, menurut seorang pelukis abstrak yang agak samar-samar, memang kelabu. Mungkin kita dapat berharap bahwa pengisi ruang ini lah warna-warnanya nanti.

Tapi mengapa harus sedingin ini? Saya melihat hampir semua orang menggunakan jaket. Jangan-jangan fashion memang menuntut udara dingin, dan ini berarti pemborosan energi. Saya ingat rumah di negeri tropis, yang sebenarnya hanya memerlukan atap dan mungkin aling-aling yang bisa digulung ke atas untuk menahan angin kencang. Begitu dibuat lebih dari itu (misalnya ditambah dinding) maka malah diperlukan energi untuk mengeluarkan panas atau mengalirkan angin. Tubuh tropis hanya memerlukan selapis kain. Lebih dari itu diperlukan pendingin udara. Seni tenun tradisional kita penuh dengan kecanggihan dalam membuat sekedar satu lembar kain menjadi indah tak kepalang. Ada fokus pada yang sedikit dan seperlunya, karena itu ada pendalaman. Seni tenun kita lah yang berkembang, bukan seni jahit. Bentuk tenun dan motiflah yang berkembang, sedang bentuk dipakainya pada tubuh, tergantung kepada bagaimana meyelimutkan dan melipatnya pada tubuh.

Marco Kusumawijaya

3 Tanggapan to “Bangkok, Thailand, 23-28 September 2006”

  1. Sigit Kusumawijaya Says:

    Selamat malam “om” Marco Kusumawijaya😉
    Apa kabar?

    Sebuah ulasan yang menarik akan sebuah nilai kesederhanaan dari sebuah negara yang notabene hampir sama budaya dengan negara kita. Saya juga pernah merasakan atmosfer warga Thai (sekitar 3 thn yang lalu) yang masih menunjukkan kebersamaan di antara mereka. Di pagi hari hari libur contohnya, mereka melakukan senam pagi di tengah kota bangkok (hampir sama dengan senam pagi di senayan). Namun yang membedakan dengan behaviour orang2 kita adalah sikap disiplin mereka akan kebersihan dan kenyamanan tempat mereka tinggal.

    Mudah-mudahan kegiatan loka-karya peta hijau yang dikampanyekan mas Marco berjalan sukses dan lancar. Mudah-mudahan saya juga bisa berpartisipasi kalau waktu mengijinkan (saya pernah ditawari oleh seorang teman untuk menjadi organisator pembuatan peta hijau UI ketika itu, tapi karena kesibukkan, saya tidak dapat melaksanakannya).

    salam hangat,

    Sigit Kusumawijaya
    Delft, NL
    homepage saya di http://sigitkusumawijaya.multiply.com

  2. lili Says:

    jadi, kalau masalahnya fashion, menjadi sederhana itu ternyata sesederhana itu ya? [mulai merenung-renung]

  3. Marco Kusumawijaya Says:

    Sigit yb.

    Terima kasih atas komentarnya. Selamat belajar. Silakan pula memberikan cerita dari negeri Belanda. Sudah lama saya tak ke sana.

    Lili yb.,
    Mungkin bisa “rumit”, kalau rancangan fashion kita bisa lebih jujur saja kepada iklim kita. Nyaman dan indah pada 31 atau 35 derajat celcius, mengapa tidak?
    Nyaman dan indah pada 20 derajat celcius, terlalu mudah, terlalu boros, meskipun dalih “three pieces” seolah memberikan lebih banyak kemungkinan artistik.

    Salam,

    marco


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: