Membakar

29 September 2006, ketika saya berjalan memasuki pesawat terbang dengan tujuan Jambi, sepucuk sms datang dari penulis Ayu Utami. Sebuah pertanyaan,”Adakah aturan yang melarang orang membakar sampah?”. Saya jawab, “Mungkin sudah ada,” sambil menebak bahwa pasti ia sedang jengkel kepada tetangga rumah barunya yang mungkin saja sedang membakar sampah. Saya juga sehentak teringat penulis besar, Pramoedya Ananta Toer, yang punya kegemaran membakar sampah seumur hidupnya.

Sejam kemudian saya mendapatkan diri saya dikepung asap yang menghalangi pandangan hanya sejauh beberapa ratus meter. Saya mendarat di Jambi. Langit putih. Matahari temaram, disekitarnya cahaya berpendar, sehingga kita bisa menatapnya tanpa silau, oleh sebab intensitasnya yang menurun drastis. Kemerahan ia, seperti bulan ketimbang dirinya Sang Surya. Fotografer National Geographic, Sdr. Ferry, mulai menggerutu, karena tak bisa mendapatkan langit biru. Ia juga tak yakin bagaimana bisa memotret di situs Muarojambi yang menjadi tujuan kami. Kami memang datang sebagai Perhimpunan Pelestarian Kawasan Muarojambi. Teman-teman mendapuk saya sebagai ketua, sampai waktunya nanti ketika saya mungkin merasa tidak sanggup lagi, misalnya karena harus lebih kental mengurus Dewan Kesenian Jakarta.

Muarojambi yang dikenal sebagai peninggalan Sriwijaya merupakan kawasan bersejarah Buddhis paling besar setelah Borobudur dan setanding dengan kawasan Trowulan dalam luasannya. Dalam suatu kawasan sepanjang 7,5 km pada tanggul alamiah anak Sungai Batanghari terdapat sekitar 82 candi atau kompleks candi. Dari semua ini tak sampai selusin yang sudah digali dan tampak sebagai bangunan dan pagar kelilingnya. Selebihnya masih berupa “menapo“, bahasa setempat untuk menunjuk kepada bukit kecil yang menutupi tumpukan (sebagian tersusun) bata-bata merah, yaitu reruntuhan-reruntuhan candi yang belum digali dan dipugar.

Untuk menghasilkan begitu banyak bata-merah pada masa lalu itu, mungkin dalam waktu yang singkat karena rombongan raja pindah dari Palembang, diperlukan banyak pembakaran. Pada salah satu candi yang sudah dibuka dari timbunan tanah; menampakkan digunakannya kerikil dan batu sebagai pengisi alas tengahnya, yang biasanya padat dengan batu bata juga. Ini menunjukkan ada upaya mengurangi penggunakan batu-bata. mengurangi juga pembakaran.

Kami berencana memamerkan foto, video, dan benda-benda dari Muarojambi di Bentara Budaya Jakarta (KOMPAS-GRAMEDIA) pada tanggal 8-18 November 2006 nanti. Benda-benda yang akan dipamerkan, antara lain terdiri dari arca perunggu berlapis emas Avalokiteswara setinggi sekitar 25 cm. Di situs ini juga diketemukan gong dan kaldron besar dari perunggu dari masa Dinasti Sung yang langka, karena pada masa itu terjadi kelangkaan kuningan yang gawat sehingga Kaisar China bahkan harus mengeluarkan perintah mengumpulkan semua kuningan yang ada di negerinya kepada perbendaharaan negara dan melarang perdagangannya.

Kami menyusuri 7,5 km itu. Sekali bertemu orang mengangkut papan kayu dengan gerobak. Mereka gugup, lalu masuk kembali ke dalam hutan, lalu suara chainsaw yang dari awal kami dengar tiba-tiba berhenti. Sudah itu ada pohon yang menampakan ciri-ciri diracun, ialah kulitnya dikelupas dan dilamuri racun. Sudah tak ada daun, kecuali beberapa yang sudah coklat hitam, ranting-ranting kering. Nun jauh masuk lebih dalam ke hutan-hutan di sana banyak titik api yang menghasilkan asap. Seorang teman yang menyusuri 7,5 km dari arah sebaliknya dan bertemu kami di tengah, bangga bercerita bahwa ia telah memadamkan satu titik api di perjalanannya.

Membakar itu memang buruk. Semua pembakaran melepaskan gas beracun. Makin rendah suhu pembakaran, makin banyak racunnya. Khusus sampah, sebenarnya hanya sangat sedikit yang “perlu” dibakar, seandainya teknik-teknik pemilahan, daur ulang, pakai ulang, kompos, digunakan dengan tekun. Tetapi “kebakaran” pun buruk kalau itu terjadi setiap tahun. Ada banyak sebab kebakaran hutan. Mungkin puntung rokok. Mungkin benar-benar karena sebab alamiah, misalnya panas yang keterlaluan, dan sinar matahari langsung menyengat daun kering kerontang. Tapi tentu seharusnya ada upaya yang bisa dilakukan untuk menguranginya. Ini perlu ketekunan, yang entah kenapa sulit sekali ajeg di negeri ini.

Marco Kusumawijaya

2 Tanggapan to “Membakar”

  1. Terang Benderang Says:

    Marco dear,
    help.. the smoke kills us, here is the news,

    http://www.thestar.com.my
    5 oct 2006

    MORE HAZY DAYS

    PETALING JAYA: Smoke from forest fires in Indonesia blew across the country, sending air quality to unhealthy levels in 10 areas yesterday.

    The haze came suddenly in Selangor, Negri Sembilan and Malacca after a day of clear blue skies on Tuesday. Visibility dropped sharply in Kuching, Port Klang and Kuala Lumpur. Several flights in Kuching, where visibility dipped to 400m at 4pm, were cancelled.

    Natural Resources and Environment Ministry parliamentary secretary Datuk Sazmi Miah said the air quality was deteriorating fast due to the high number of hotspots in Borneo and Sumatra.

    “There are more than 600 hotspots in Kalimantan and more than 300 in Sumatra, which is the highest in recent times, and the haze is caused by the transboundary effect from these places.
    “We are monitoring the hotspots very closely and will hold a meeting tomorrow (today) to discuss the situation and to determine when to implement the Haze Action Plan,” he said, adding that ban on open burning was still on.

    Selangor Mentri Besar Datuk Seri Khir Toyo said the haze enveloping the Klang Valley was expected to last three days because of the open burning in Sumatra.
    He said the weather would improve once the winds change direction.

    Selangor state environment committee chairman Datuk Ch’ng Toh Eng: “If the situation warrants it, we will call for a state-level meeting and activate anti-haze measures.”

    The Air Pollutant Index (API) recorded “moderate” levels in most areas nationwide as at 5pm yesterday, and “unhealthy” in some areas.
    The API levels for most areas in the Klang Valley were at moderate levels, although the reading for Petaling Jaya increased from 38 to 82 in 24 hours.
    API readings, released by the Department of Environment, at 11am yesterday recorded 11 areas at unhealthy levels and 27 at moderate levels. At 5pm, there were 10 areas at unhealthy levels and 35 at moderate levels.

    The worst hit areas as of 11am were in Sarawak, and they were Petra Jaya (187), Samarahan (177) and Kuching (171), while in Peninsular Malaysia, unhealthy API levels were recorded in Nilai (109), Seremban (107) and Bukit Rampai (100).

    However, by 5pm the levels in Sarawak had risen – Petra Jaya to 231, Samarahan to 191 and Kuching to 187. There was also a slight increase in the peninsula.

    Metrological Services Department deputy director Leong Chow Peng said people should abstain from open burning.

    “There may be a slight improvement in condition by the weekend as the wind would change direction and blow north westerly,” she said.
    The southerly wind from Sumatra is carrying the smoke over to the west coast of the peninsula.
    “We are hopeful that the haze will clear up during the weekend,” she said.

    A DOE official said if the situation worsened the national haze action plan would be put in place.

    Health authorities had also called on senior citizens, children and people with asthma to stay indoors and drink lots of water.

    In Kuching the authorities have started clouding seeding operations to induce rain to bring relief to Sarawakians, who are experiencing a prolonged dry spell.
    The visibility level was the lowest at Kuching (400m), Bintulu (1km), Sibu (1.2km) and Sri Aman (1.5km) as of 5pm yesterday.

    The Natural Resources and Environment Board has started distributing masks to the public.

    Seremban was shrouded in a blanket of haze throughout the afternoon and there was an acrid smell in the air.
    Negri Sembilan DOE director Rahani Hussin said there was one case of open burning for land clearing in Kampung Kepis, Kuala Pilah, and villagers were told to stop doing so.
    Rahani said while such open burning was allowed for land clearing purposes, the DOE found that too many villagers were carrying out the same activity at the same time, causing a hotspot to be created.

    In Malacca, the API reading in the city rose to 91 from 51 while in Bukit Rambai, the reading was 100 at 11am.
    The city was shrouded in haze despite heavy rain in the morning yesterday.
    —–

  2. Marco Kusumawijaya Says:

    Dear Terang Benderang,

    May we know your name place?
    (Even though we like the name Terang Benderang very much).
    Thank you for the bad news, which is embarassing for us in Indonesia as net exporter of smoke.

    Greatest apology is due from us to you in Malaysia.
    I wish, and i know many also wish the same, i could do something.

    marco


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: