Konsumsi

Setiap kali saya makan berlebih, saya sakit perut. Gejala ini sudah lama. Tapi baru belakangan ini saya sadari, bahwa ini adalah cara tubuh saya menolak yang tidak perlu. Saya seharusnya mendengarnya. Saya seharusnya mengenal tubuh saya sendiri. Kata rahib Tibet yang diperankan Chow Yun Fat di dalam film Bullet-proof Monk, “Mengenal orang lain itu bijaksana, mengenal diri sendiri adalah pencerahan.”

Soalnya memang mengapa kita musti menolak yang tidak perlu itu. Dulu saya pikir sebabnya kita sulit menolaknya, segala vices itu, adalah karena semuanya enak. Tapi entah kenapa ketika saya masuk mall Plaza Indonesia siang tadi, saya menyadari bahwa semuanya tidak ada satupun yang enak, malah mulai timbul rasa jijik. Lihat orang-orang yang antri di Breadtalk itu: anak-anak dan remaja chubby jelek, tante-tante berpipi dan gincu tebal, dengan pinggang dan perut yang tidak jelas batasnya, tidak satupun berwajah segar sehat yang memancarkan keramahan.

Sedang pagi tadi saya melihat yang sebaliknya. Saya di toko sepeda sebagai pelanggan baru pertama, ketika toko baru buka. Jeruji sepeda lipat saya patah satu. Perlu tiga bulan bagi teman saya mendapatkan gantinya di Swedia, setelah gagal memperolehnya di Inggeris. Toko itu memasangkan jeruji baru, dan menyetelnya dengan peralatan berumur puluhan tahun. Saya pun ngobrol dengan pemilik. Tante itu lahir di pulau yang sama dengan saya, pulau Bangka. Ia mengenal nama ayah saya, seperti mungkin semua orang di pulau itu yang berumur lebih dari 50 tahun. Yang bekerja memasang, tak henti membanding-bandingkan setiap bagian sepeda saya yang ‘top” itu dengan sepeda-sepeda yang ada di toko. Seseorang anak muda lewat, mencari sepeda, wajahnya segar. Semua orang senang dan murah hati dengan obrolan. Wajah-wajah mereka sehat. Mungkin karena pagi hari. Saya menggemari saat-saat pagi seperti ini, ketika hari baru mulai, sama seperti saya menggemari saat-saat akhir tiap hari—remains of the day, seperti judul sebuah novel dan film yang dibintangi Anthony Hopkins dan Emma Thompson.

Tapi semua rasa senang pagi hari bisa juga tersebab hal sederhana: udara segar yang sejuk tanpa AC. Dan soal AC ini makin terasa mengganggu saya sebagai kebiasaan buruk di negeri ini. Semua mall makin membuat saya menggigil tersebab saya selalu berpakaian satu lapis saja, ialah t-shirt. Para anggota DPR yang terhormat katanya harus bergaya pakai jas karena ruang-ruang sidang dingin. Dua bulan pertama di kantor Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) saya banyak gunakan ingatkan orang matikan AC (dan lampu) di dalam ruangan yang sedang tidak digunakan.

Dan T-shirt (tee): Saya kira ini cara luar biasa untuk konsumsi sehat. Karena tiap tahun saya mendapat sekitar 6 tees dari segala macam lokakarya atau acara yang saya hadiri, maka saya praktis tidak perlu beli baju apapun lagi. Dan tee yang cuma satu lembar itu sungguh tepat untuk tubuh tropis. Tak perlu AC. Tubuh bergerak bebas, tidak tersensor. Tapi itu persis (mungkin) sebab orang menambah-nambah lapisan pada pakaian, ialah untuk membatasi tubuh, supaya menjadi berkrama. Peradaban memang berbanding lurus dengan jumlah (lembaga) krama yang diciptakannya. Di ruang publik, pembatasan itu seolah menjadi keharusan, supaya orang tidak terjebak dalam kikuk dan gugup. Dalam arti demikian, pakaian itu membebaskan. Tapi seorang feminis menulis “If you censor my body, you censor my breath and my speech.” (Jika kau menyensor tubuhku, maka sama saja dengan kau menyensor nafas dan ujarku). Rasanya ini tepat sekali mengacu pada pakaian. Pakain berlebih itu menyensor tubuh, nafas dan ujar kita.

Tapi sekali-sekali merokok dan minum alkohol tak apalah, sebab kadang-kadang ada perlunya juga. Asal disertai pertanyaan: “Apakah Anda sungguh menikmatinya dengan bebas? Bukan karena kecanduan, gaya, ikut-ikutan, terpaksa memenuhi krama, ditentukan secara langsung atau tidak langsung oleh orang lain, oleh lingkungan?

Marco Kusumawijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: