Pasar Emisi Karbon dan Menjadi ‘Netral Karbon’

Secara sederhana, siklus karbon di atmosfer Bumi terdiri dari dua buah reaksi:

  • Senyawa karbon + oksigen -> karbondioksida + energi. Ini terjadi misalnya pada pernafasan makhluk hidup atau hampir segala hal yang berhubungan dengan pembakaran.
  • Karbondioksida + energi -> senyawa karbon + oksigen. Ini terjadi pada tanaman di siang hari, tanaman menangkap karbon dari atmosfer dan mengubahnya menjadi karbohidrat.

Sebelumnya ini adalah reaksi yang bersifat ekuilibrium. Karena kedua reaksi tersebut seimbang, maka kuantitas karbondioksida di atmosfer relatif konstan. Masalah baru timbul setelah revolusi industri dimana penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, gas alam) semakin meluas. Penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan bermilyar-milyar ton senyawa karbon yang sebelumnya tersimpan selama jutaan tahun di perut bumi dilepaskan ke atmosfer. Akibatnya konsentrasi karbondioksida di atmosfer semakin bertambah, dan inilah yang menyebabkan temperatur bumi semakin meningkat.

Untuk mengatasi hal ini, negara-negara yang tergabung dalam United Nations Framework Convention on Climate Change merancang yang dinamakan Protokol Kyoto. Salah satu yang diatur oleh protokol ini adalah kuota emisi. Setiap negara maju yang tergabung dalam Protokol Kyoto memiliki batasan jumlah maksimum karbondioksida yang diperbolehkan dibuang ke atmosfer. Negara-negara maju yang memiliki kebutuhan emisi yang lebih tinggi daripada kuota tersebut dapat memperbesar kuota dengan cara:

  • Mengerjakan proyek untuk mengurangi emisi pada negara-negara berkembang,
  • Membeli kuota tambahan dari negara maju lain; atau
  • Membeli kuota tambahan dari pasar emisi.

Sebagai contoh, Belanda mengerjakan proyek untuk mengurangi emisi di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kuota emisi negara tersebut.

Walaupun penerapan kuota ini dilakukan per negara, tetapi pada praktiknya setiap negara akan membagi-bagi jatah mereka kepada masing-masing industri di dalam negara tersebut. Akibatnya, bisa jadi perusahaan pembangkit listrik atau pabrik mobil memiliki kuota masing-masing. Entitas-entitas ini nantinya akan dapat melakukan transaksi kuota emisi sesuai kebutuhan masing-masing pada pasar emisi. Salah satu pasar emisi yang dimaksud adalah European Climate Exchange. Ini adalah pasar komoditas dimana berbagai pihak dapat melakukan jual beli kuota emisi karbon.

Walaupun Amerika Serikat masih saja menolak untuk meratifikasi Protokol Kyoto, beberapa negara bagiannya membuat Regional Greenhouse Gas Initiative, sebuah perjanjian yang mirip dengan Protokol Kyoto, tetapi pada tingkat negara bagian. Salah satu pasarnya adalah Chicago Climate Exchange yang mewakili paling tidak sekitar 4% dari total emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat. Selain itu sejak 1990, Amerika Serikat menerapkan Clean Air Act, yaitu sistem yang mirip tetapi untuk gas belerang oksida.

Dengan adanya pasar-pasar ini, pihak-pihak dapat melakukan transaksi jual beli kuota emisi karbon dan gas rumah kaca lainnya sebagaimana jual beli komoditas lainnya. Pihak yang memerlukan kuota tambahan dapat membelinya, dan yang memiliki kuota yang menganggur dapat menjualnya. Saat ini, dua pasar emisi terbesar tersebut belum tersambung, akibatnya perbedaan harga terlihat sangat mencolok. Walaupun demikian seharusnya tidak ada hambatan yang berarti di masa yang akan datang bagi kedua pasar ini dan pasar-pasar emisi lainnya untuk dapat bergabung, atau dengan kata lain emisi yang dibeli pada satu pasar dapat dijual pada pasar emisi yang lain.

Bagaimana skema seperti ini dapat meringankan dampak emisi pada lingkungan? Melalui kerangka ini, pihak-pihak yang pro lingkungan dapat membeli kuota emisi dan membuangnya. Sebagai contoh, Acme Corporation memiliki kuota emisi sebesar 1000 ton karbondioksida per tahun. Artinya, Acme Corporation hanya diperbolehkan untuk membuang karbondioksida ke atmosfer maksimal sebanyak 1000 ton setiap tahunnya. Jika ada pihak yang membeli kuota sebesar 100 ton dari Acme, maka kuota Acme menjadi 900 ton dan kini dia hanya diperbolehkan untuk membuang karbondioksida maksimal sebanyak 900 ton/tahun.

Bagaimana jika yang membeli adalah agen pro lingkungan? Dia akan membeli tetapi tidak menggunakan kuota yang dibeli. Akibatnya emisi karbondioksida ke atmosfer bumi berkurang sebesar 100 ton/tahun. Ini adalah kompromi yang adil bagi kedua pihak. Di satu sisi kaum pro lingkungan berhasil mencapai tujuannya untuk menurunkan emisi karbondioksida. Sedangkan di sisi lain industri mendapatkan dana yang dapat digunakan misalnya untuk beradaptasi dengan menggunakan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Tentunya itu kondisi idealnya. Masalah utamanya, baru sedikit industri dan negara yang melakukannya. Tetapi ini adalah permulaan yang baik. Dengan semakin tingginya kesadaran lingkungan, diharapkan makin banyak pihak yang bergabung dengan sistem seperti ini.

Apa efeknya bagi individu seperti kita? Pasar emisi adalah peluang yang baik bagi individu seperti kita untuk dengan mudah menjadi ‘netral karbon‘. Seperti kita ketahui, aktivitas kita akan melepaskan sejumlah karbon ke atmosfer. Menyalakan lampu, bepergian, menggunakan komputer semuanya akan melepaskan karbon ke atmosfer. Untuk menjadi ‘netral karbon’, kita dapat menghitung emisi karbondioksida akibat aktivitas kita, dan kemudian melakukan aktivitas untuk menyerap karbon sebanyak yang telah kita buang tersebut. Bentuk paling tradisional untuk menyerap karbon adalah dengan menanam pohon, tetapi ini akan sangat sulit misalnya karena keterbatasan lahan.

Aktivitas yang mulai populer adalah dengan melakukan pembayaran ke penyedia layanan ‘netral karbon’ sesuai dengan jumlah karbondioksida yang kita buang. Nantinya mereka yang akan melakukan aktivitas penyerapan karbon untuk kita. Akibatnya, emisi karbondioksida akibat aktivitas kita sehari-hari akan diimbangi oleh usaha penyerapan karbon dari atmosfer yang dilakukan oleh penyedia layanan ‘netral karbon’ ini. Cara-cara yang dilakukan oleh penyedia layanan ‘netral karbon’ ini adalah dengan melakukan penghijauan hutan, melakukan investasi pada jenis sumber energi yang ramah lingkungan, dan kini mereka dapat memborong kuota emisi melalui pasar emisi. Dengan menjadi ‘netral karbon’, aktivitas yang kita lakukan tidak akan menambah jumlah karbondioksida di atmosfer.

Setelah ‘An Inconvenient Truth’, lawan-lawan politik Al Gore dengan cepat menunjukkan fakta bahwa Al Gore memiliki kontribusi besar pada pemanasan global karena sering bepergian dengan menggunakan pesawat. Tetapi kenyataannya, Al Gore mengkompensasi emisi karbondioksida dari aktivitasnya ini dengan menggunakan layanan ‘netral karbon’. Nantinya penyedia layanan ‘netral karbon’ ini yang akan menangkap karbon sejumlah yang dibuang akibat aktivitas tersebut. Dengan demikian, aktivitas Al Gore untuk mempromosikan gerakan pro lingkungan praktis tidak menambah jumlah karbon di atmosfer.

Contoh-contoh penyedia layanan ‘netral karbon’ adalah Carbon Funds di Amerika Serikat, Climate Friendly di Australia atau Carbon Clear di Kerajaan Bersatu. Masih banyak lagi penyedia layanan ‘netral karbon’ di Internet, salah satu daftarnya dapat dilihat di Ecobusinesslink.com.

Semua penyedia layanan ‘netral karbon’ ini memiliki kalkulator yang dapat digunakan untuk menghitung emisi karbon dari aktivitas seperti penggunaan listrik, mengendarai mobil atau bepergian dengan pesawat. Tetapi harus diperhatikan juga bahwa bisa saja asumsi yang digunakan oleh kalkulator-kalkulator ini berbeda dengan kondisi di Indonesia.

Pertanyaannya, apa ada penyedia layanan ‘netral karbon’ di Indonesia? Daripada menanam pohon pinus di Taman Nasional Gallatin, Montana, US, saya lebih suka uang saya digunakan untuk menanam pohon jati di Kalimantan Selatan.

Priyadi Iman Nurcahyo (priyadi.net)

Ditulis dalam +RAGAM. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Pasar Emisi Karbon dan Menjadi ‘Netral Karbon’”

  1. #/ timpakul :: celoteh lingkungan hidup yang tak penting » dari energi surya ke netral carbon Says:

    […] Membaca dua coretan Priyadi tentang Hitung-Hitung Tenaga Surya dan Pasar Emisi Karbon dan Menjadi ‘Netral Karbon’ (juga dikutip oleh komunitas peta hijau) berikut komentar yang dilontarkan oleh pengunjung setianya. […]

  2. agi Says:

    karbon adalah pencemaran dari ulah manusia?
    hutan, kita mengetauhi bahwa sanya dapat menyerap karbon………….!
    nah di sini saya menanyakan , bagai mana kah cara penyerapan karbon terhadap pohon..?
    dalam 1 pohon berapa klg kah yang bisa di serap…?
    bagai mana kah cara penghitung karbon…?
    bagai manakah sistim dari perdagangan karbon…,,,?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: