Puncak

Rasanya sudah satu generasi saya tidak ke atau melewati Puncak, Jawa Barat.

Memang sudah lama saya merasa Puncak itu sudah jadi slum, jadi tidak ada yang menarik untuk dinikmati.

Tanggal 9-11 lalu saya “terpaksa” melewati Puncak, menuju Wisma Kompas-Gramedia, untuk rapat kerja Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Saya jadi mikir, jangan-jangan nasib Bandung dan Lembang akan sama dengan Puncak. Semuanya akan jadi korban perluasan ruang-konsumsi orang Jakarta. Orang Jakarta ini telah terus-menerus meluaskan ruang konsumsinya. Dulu, katakanlah sebelum tahun 1970-an, untuk “naar boven” di akhir pekan orang Jakarta sudah puas pergi ke Bogor, satu jam melewati jalan lama. Puncak masih suatu kemewahan yang elitis. Setelah jalan tol, Puncak menjadi tak lebih dari satu jam jaraknya. Lalu orang juga pergi ke Cipanas. Sedang ke arah laut, orang Jakarta pada awalnya sudah puas kalau ke Ancol saja. Setelah ada jalan tol, mereka pergi ke Anyer, lalu Carita, dan kini bahkan makin jauh, ke Tanjung Lesung, mendekati hutan lindung Ujung Kulon. Sedang ke arah gunung bahkan sudah sampai ke Bandung dan Lembang.

Puncak menjadi terjangkau oleh makin banyak orang. Tidak lagi perlu menjadi elit. Para pengembang bahkan mengembangkan rumah-rumah murahan (belum tentu murah!) untuk keluarga-keluarga baru yang berselera buruk.

Sedang gejala umum adalah memang ada peningkatan luar biasa dalam hal perjalanan. Turisme telah menjadi gaya hidup. Meskipun banyak yang berakhir di pusat-pusat belanja saja, termasuk yang menjual suvenir murahan. Plus foto tentu saja. Kemudahan perjalanan mestinya tidak membuat kita kurang waspada tentang manfaat perjalanan itu. Wendy Brawer, pendiri Green Map System, tahun ini sengaja mengurangi perjalanan karena merasa tahun lalu sudah terlalu banyak menghasilkan polusi udara dan energi fosil karena perjalanan menyeberangi Atlantik dan Pasifik. Ia pun mengumpulkan beberapa keperluan sekaligus dalam satu rangkaian, supaya lebih efisien.

Saya kira kecerdasan kita memang tergantung pada seberapa cepat kita mewaspadai setiap kemudahan karena setiap kemudahan akan merangsang konsumsi yang lebih besar, yang belum tentu perlu.

Tentang Puncak ini, bagaimana kira-kira masa depannya? Entahlah, sebab soal ini tergantung juga pada kemampuan kita untuk dapat menikmati alam tanpa harus memilikinya, secara sendiri-sendiri. Saya jadi ingat salah satu hukum pandu: jangan meninggalkan jejak apapun di alam liar, supaya semua makhluk yang lewat tempat ini setelah kita dapat menikmatinya seperti keadaan asli (pristine).

Dan banyak tempat lain di seluruh Indonesia yang menyerupai Puncak: Bukittinggi, Malang, Lembang, Dieng, Kabanjahe, Takeungon, Tomohon, Wonosobo, Tretes, dan lain-lain.

Mereka semua menantang kebodohan kita. Mereka semua menantang nafsu kita, seperti Ken Arok yang menghendaki betis Ken Dedes: Yang dikehendaki bukan hanya mengalami keindahan, tetapi memiliki apa yang tadinya hanya mungkin dimiliki para elit. Suatu balas dendam, bahwa “aku” juga kuasa memilikinya, seperti “mereka”.

Marco Kusumawijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: