Mata Pisau Informasi dalam Green Map

Dalam salah satu sesi workshop Green Map di Institut Teknologi Bandung (ITB) akhir pekan lalu, terungkap bahwa tidak mustahil sebuah komunitas di suatu kawasan menolak untuk memetakan sumberdaya kawasan tersebut. Ari Nugraha, arsitek dan pegiat Green Map di Bandung, mengalami hal itu ketika mencoba memetakan kawasan sebuah desa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di wilayah Kabupaten Bandung bersama warga setempat dan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal pada tahun 2004.

DAS Citarum di Jawa Barat

Memang pada awalnya warga cukup antusias dengan kegiatan memetakan kawasan tempat tinggal mereka menjadi sebuah green map. Tidak ada salahnya mencoba menjelajahi isi kampung sendiri kembali. Siapa tahu dengan pendekatan greenmap ini bisa menemukan hal baru di lingkungan keseharian yang mungkin selama ini terlewatkan.

Data dan potensi yang baik dan buruk pun terkumpul. Ketika diskusi, warga semakin tersadar bahwa desa mereka memiliki potensi sumberdaya alam berupa lahan subur, dan yang indah, di beberapa tempat. Justru hal ini yang menyurutkan semangat keterbukaan yang semula ada. Warga khawatir jika informasi tentang potensi alam itu tersebarkan dalam green map yang akan terbit itu maka akan membahayakan kelestarian lahan subur tadi. Alasannya cukup masuk akal, takut informasi yang tersebar akan mengundang datangnya investor tamak yang akan menguasai tanah itu dan mereka akan menderita kehilangan. Ketakutan warga bisa diterima dan diputuskan bahwa green map tersebut tidak akan dicetak dan disebarluaskan, tetapi hanya untuk kegiatan saat itu saja. Rangkaian proses pemetaan dan diskusi pun kemudian tetap bisa dilanjutkan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam +RAGAM. 2 Comments »

Bungo Jeumpa dan Beo Nias

Bungong Jeumpa

Kemarin saya tiba kembali ke Jakarta dari Banda Aceh dengan hati gembira: empat pokok bunga Jeumpa yang saya titip di perut pesawat Garuda sampai dengan selamat dan sejauh ini masih segar di halaman dalam rumah saya.

Seperti biasa, manakala tanaman dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, maka ia akan mengalami “shock” karena perubahan iklim dan kondisi mikro lainnya. Dua bulan lalu saya membawa pulang tiga pokok. Dua darinya mati. Jadi untuk yang empat ini saya masih menunggu sambil was-was, dan memperlakukannya dengan lebih hati-hati: diletakkan di tempat sejuk di bawah pohon waru

Rasa syukur saya kiranya lebih karena menemukan kenyataan, bahwa ternyata para petugas Garuda sangat membantu. Di Bandara Iskandar Muda di Banda Aceh, mereka membantu mengemasnya. Lalu mereka memasukkannya paling akhir ke perut pesawat. Mereka carikan tempat khusus, di sebelah sesuatu, di dalam kotak tertentu, katanya, agar tak terbentur barang-barang lain. Di kaki pesawat, ketika saya hendak menaiki pesawat, petugasnya melapor secara khusus kepada saya dan menyalami saya dengan senyum simpatik. Mereka hanya khawatir terjadi sesuatu di Bandara Polonia ketika transit. Memang banyak kabar tak sedap saya dengar tentang bandara yang satu ini: banyak barang rusak atau bahkan hilang. Tapi saya sendiri belum pernah mengalaminya, karena selalu membawa seluruh barang saya ke kabin, sebab selalu bergegas. Di Bandara Jakarta, ketika keempat pokok itu akan masuk ke ban-berjalan, petugas bandara pun menyibak bilah-bilah karet agar tidak menabrak pokok-pokok itu. Sebelumnya, beberapa menit pasokan koper dan tas ke ban-berjalan terhenti karena mereka sibuk memindahkan pokok-pokok itu dengan hati-hati dan perlahan. Semua penunggu sempat bertanya-tanya ada apa, sampai ketika keempat pokok itu tampak masuk ke dalam ban berjalan. Dan saya bernapas lega serta hampir lepas kendali menyerukan riang hati. Baca entri selengkapnya »

Workshop Green Map di Bandung

Hari, tanggal : Sabtu, 18 November 2006
Tempat : Selasar Gedung Kampus Center Institut Teknologi Bandung (ITB)
… dari Gerbang ITB Jl. Ganesa, masuk lurus ke utara, gedung putih dekat lapangan basket
Waktu : pk 09.00 – 17.00 WIB
Agenda :
09.00 – 10.00 salam pembukaan, perkenalan, penjelasan umum tentang Green Map
10.00 – 11.30 penjelasan dasar-dasar pemetaan & lingkungan hidup, diskusi
11.30 – 12.30 persiapan simulasi, simulasi survei di sekitar lokasi
12.30 – 13.30 istirahat, sholat, makan siang (cari warung yang deket, makan rame-rame)
13.30 – 15.00 presentasi hasil survei, diskusi
15.00 – 17.00 diskusi rencana kegiatan ke depan, konsolidasi pegiat Green Map Bandung, penutup

Jika jadwal di atas dirasa terlalu pendek maka bisa didiskusikan dengan peserta lain untuk membuat extended-workshop pada hari Minggu, 19 November 2006. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam +AGENDA, Bandung. 3 Comments »

Seeing the World Through Green Maps

Eco-Economics & the Green Map System
This article originally appeared as the cover story for the spring 1999 issue of the International Society for Ecological Economics Bulletin.

Seeing the World Through Green Maps
© 1999 Wendy Brawer and Beatriz Castañeda

Understanding and addressing the ecological status of our planet today is too overwhelming for most people, but the condition of our cities and towns is more readily grasped and changeable. By putting places where nature and the designed environment interconnect on a Green Map, a fresh perspective is created that directly promotes the community’s eco-resources. Each of these locally-produced maps tells a different and very accessible story about the elements and value of urban sustainability, using the Green Map System’s globally shared GMS Icons to highlight the area’s natural places, ECOnomic developments, mobility options, greening organizations, and more. Whether printed or web-based, all Green Maps help residents discover wonderful green sites to get involved with every day and encourage the spread of successful greening initiatives across the globe.

Using the Green Maps, communities educate themselves regarding the interaction between the natural and built environments, the relationship between open space and cultural space. Mixing the ancient art of map-making with new, interactive media, citizens of all ages and backgrounds are invited to adapt and employ our collaborative tools as they chart the green spaces, environmental resources and socially-significant sites in their own cities. As experienced through these locally created Green Maps, GMS strengthens community awareness regarding our connection to the urban ecology. GMS is an environmental social project for healthier, more sustainable urban ecologies. Currently, 90 cities of all sizes in 27 countries on 6 continents are adapting the GMS framework as they put their hometowns green sites on the map. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam +GMS. Leave a Comment »

Bulan Tanpa Tuhan, Darah Mengalir, November!

Bulan November dalam bahasa Jepang disebut Kannazuki, bulan tanpa Tuhan. Banyak sajak dimulai dengan, “Chihaya buru, Kannazuki!” ….Darah mengalir, November!….Saya mengutip ini dari email Aika Nakashima, staff Green Map New York yang menghadiri pertemuan nasional peta hijau Indonesia pertama, Januari lalu.

Jadi kita perlu berhati-hati di bulan ini, persis ketika baru saja merasa “menang” setelah berpuasa.

Bagi saya pribadi, pengalaman pertama di pagi hari 1 Syawal 1427, hampir berdarah: Sekelompok remaja dan beberapa pemuda tanggung memukuli seorang pemuda lain yang dipaksa berhenti dan turun dari sepeda motornya. Kemudian mereka menyetop satu mobil yang dikendarai seorang ibu muda, dan memukul mobil itu berkali-kali. Semua itu terjadi di depan rumah saya, sehingga saya harus keluar dan mengingatkan. “Jangan begitu, ini hari raya Idul Fitri.” Tapi saya mengerut ketika mereka malah menantang saya sambil memungut batu besar dan mengancam akan melempari saya dengan batu. Baca entri selengkapnya »