Bulan Tanpa Tuhan, Darah Mengalir, November!

Bulan November dalam bahasa Jepang disebut Kannazuki, bulan tanpa Tuhan. Banyak sajak dimulai dengan, “Chihaya buru, Kannazuki!” ….Darah mengalir, November!….Saya mengutip ini dari email Aika Nakashima, staff Green Map New York yang menghadiri pertemuan nasional peta hijau Indonesia pertama, Januari lalu.

Jadi kita perlu berhati-hati di bulan ini, persis ketika baru saja merasa “menang” setelah berpuasa.

Bagi saya pribadi, pengalaman pertama di pagi hari 1 Syawal 1427, hampir berdarah: Sekelompok remaja dan beberapa pemuda tanggung memukuli seorang pemuda lain yang dipaksa berhenti dan turun dari sepeda motornya. Kemudian mereka menyetop satu mobil yang dikendarai seorang ibu muda, dan memukul mobil itu berkali-kali. Semua itu terjadi di depan rumah saya, sehingga saya harus keluar dan mengingatkan. “Jangan begitu, ini hari raya Idul Fitri.” Tapi saya mengerut ketika mereka malah menantang saya sambil memungut batu besar dan mengancam akan melempari saya dengan batu.

Entah mengapa, saya merasa ini isyarat, bahwa setelah satu bulan hidup “suci”, maka bangsa Indonesia akan kembali lagi dengan soal-soal “biasa” seperti korupsi, kekerasan, ketidak jujuran, saling menyalahkan, menyalahkan yang menyalahkan atau mengingatkan, atau mencari kambing hitam.

Beberapa hari lalu, sebuah surat kabar memasang foto besar di halaman depannya: Seekor kambing (yang tidak begitu hitam) melayang di atas lumpur panas LAPINDO, tersebab dilempar oleh beberapa orang berseragam seperti mereka datang dari Arab, kecuali sarungnya, atas nama doa dan agama, agar lumpur berhenti menyembur. Kasihan sekali kambing itu, bukan karena ia di”kambing-hitam”kan, tetapi karena ia mati tanpa arti, meski tanpa darah, seperti harapan kita di November ini. Orang-orang belum mau terima, bahwa keajaiban tidak lagi terjadi sesederhana itu (semata-mata memenuhi permintaan manusia yang tidak berikhtiar). Lagipula, lumpur itu keluar sudah jelas karena kesalahan manusia, lalu Tuhan mau disuruh memperbaikinya, dengan perantaraan atau kurban seekor kambing yang mati tanpa darah? Saya tidak tahu ada Tuhan yang semurah itu. Perkara ini sungguh tak usah dibawah ke Tuhan, paling tinggi cukup sampai Aburizal Bakrie.

Tanggal 5 November 2006, keberangkatan saya ke Pekanbaru untuk workshop peta hijau tertunda, karena Garuda dari Pekanbaru terlambat berangkat tersebab asap tebal. Sudah ada hujan, tapi tetap asap, kata orang setempat, lain dari biasanya…

Di bandara Sukarno-Hatta, hampir juga pengalaman “berdarah” berulang, ketika seseorang menyela antrian.

Jadi, di-total-total, belum seminggu memasuki “bulan tanpa Tuhan” ini saya sudah kelelahan menghadapi tanda-tandanya.

Memang mudah merasa frustrasi menghadapi soal lingkungan ini, apalagi di Indonesia. Sebab selalu ada orang bebal yang tak mau melihat masalah (seperti Bush Sang Putra, misalnya), atau orang yang tahu tapi tak mau berubah, karena menikmati status quo, atau takut bahwa perubahan akan menyebabkan keburukan lebih besar. Eric Hoffer dalam karya klasiknya, The True Believer, Thoughts on the Nature of Mass Movements (1951) mengatakan sikap konservatif bisa terjadi sama kuat pada orang yang menikmati maupun menderita akibat kemapanan, karena ketakutan tersebut.

Sesungguhnya kita harus membedakan “lessons-learned” dan “perubahan.” Memetik pelajaran itu tidak sulit. Yang sulit adalah berubah, atas dasar petikan pelajaran itu. Sebab kita berhadapan dengan rasa takut kita sendiri, dengan “mara” yang ada di dalam diri kita sendiri. Ketika mara kita atasi, maka namanya pencerahan. Tetapi pencerahan sulit total, sering ada sisa mara tercecer. Yang tersisa itu yang terus menerus mengancam menggangu membangkitkan yang lain. Bahkan Siddharta Gautama sempat menolak ibun tirinya sebagai pengikut, karena belum tercerahkan dalam hal pandangannya tentang perempuan, padahal peristiwa penolakan itu terjadi setelah beliau –inilah yang saya dengar–mencapai pencerahan (yang mestinya total) di bawah pohon boddhi, setelah menaklukkan mara dengan tiga wujudnya berupa tiga putri (perempuan!) cantik.

Tetapi bukankah selalu optimisme bangkit kembali ketika melakukan lokakarya peta hijau dengan orang-orang muda?

Di Pekanbaru, Sdr. Dedi Ariandi (30 tahun), seorang arsitek, bersama beberapa temannya mendirikan lembaga bernama Sadu Perdana Arsitektur Melayu (SPAM), yang melakukan penelitian tentang arsitektur dan lingkungan setempat, dan membiayainya sendiri, atau oleh perusahaannya. Saya teringat dengan Sdr. Enrico Halim yang membiayai majalah alternatif AIKON dulu, dan juga peta hijau pertama di Indonesia. Dedi mengumpulkan 13 orang beberapa mahasiswa arsitektur dan siswa SMU untuk mengikuti lokakarya perintisan peta hijau. Masing-masing mereka memilih nama alamnya sendiri: Angin, Air, Bunga, Bintang, Matahari, Daun, Tunas, Pasir, Batu, Melati, Bulan, Api, Tunas…dan terakhir, Asap (!).

Meskipun tidak mudah menjelaskan konsep-konsep ekologis yang besar-besar dan rumit, tetapi mata mereka bersinar dan mudah paham ketika contoh-contoh di sekeliling mereka dikemukakan. Mereka dengan segera bangkit dengan kegeraman dan keprihatinan yang jelas. Semua orang bisa membayangkan kerusakan lingkungan di Riau: pencemaran sungai Siak (dan sungai-sungai lain) oleh limbah industri karet, kayu lapis, petro-kimia, dll.; asap tebal yang ditimbulkan oleh terbakarnya hutan; sarang burung walet di seluruh kota, dengan pemerintah seolah tak pernah dengar apa yang disebut tata-guna lahan; tingkat pembakaran sampah rumah tangga yang tinggi; dan lain-lain. Hal-hal itu tidak memerlukan teori dan penjelasan canggih untuk memahami mudaratnya.

Tapi bagaimana membuat perubahan? Seperti di banyak tempat lain, mudah mengetahui sesuatu yang salah, tetapi pertanyaan bagaimana mengubahnya bisa membuat orang menjadi frustrasi, putus asa atau pasrah. Saya juga, kadang-kadang.

Pada saat ini di Pekanbaru tidak diketahui ada data yang jelas mengenai letak, jumlah, dan tingkat berbagai-bagai pencemaran itu, sehingga debat tak pernah produktif, dan mudah dialihkan ke hal-hal lain seperti pertentangan kepentingan. kesulitan dalam membuat aturan, pribadi pejabat, dan lain-lain.

Peta dapat membantu membuat eksplisit fakta yang terkadang tidak tercatat secara sistematis. Selain itu peta dapat menyajikan fakta secara menyeluruh, terpadu, tidak sepotong-sepotong. Peta juga dapat memudahkan penyajian (dalam satu lembar) sehingga mudah dokomunikasikan. Sedang proses membuat peta itu sendiri membuat orang menjadi “mindful” (penuh-kesadaran?) tentang lingkungannya. Membuat peta dengan tangan dan didahului jalan kaki mengelilingi lingkungan, memberikan pengalaman tentang kehati-hatian dan memperhatikan lingkungan, dan kaitan antara satu hal dengan hal lain.

Sesudah itu? Sesudah itu, membuat perubahan masih seribu langkah ke depan…Tapi angka seribu atau sejuta dimulai dengan angka satu, sesudah 0, maka kami bersyukur langkah pertama telah diambil. Kami berharap ada kesabaran cukup untuk 999 langkah berikut.

Marco Kusumawijaya

Satu Tanggapan to “Bulan Tanpa Tuhan, Darah Mengalir, November!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: