Bungo Jeumpa dan Beo Nias

Bungong Jeumpa

Kemarin saya tiba kembali ke Jakarta dari Banda Aceh dengan hati gembira: empat pokok bunga Jeumpa yang saya titip di perut pesawat Garuda sampai dengan selamat dan sejauh ini masih segar di halaman dalam rumah saya.

Seperti biasa, manakala tanaman dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, maka ia akan mengalami “shock” karena perubahan iklim dan kondisi mikro lainnya. Dua bulan lalu saya membawa pulang tiga pokok. Dua darinya mati. Jadi untuk yang empat ini saya masih menunggu sambil was-was, dan memperlakukannya dengan lebih hati-hati: diletakkan di tempat sejuk di bawah pohon waru

Rasa syukur saya kiranya lebih karena menemukan kenyataan, bahwa ternyata para petugas Garuda sangat membantu. Di Bandara Iskandar Muda di Banda Aceh, mereka membantu mengemasnya. Lalu mereka memasukkannya paling akhir ke perut pesawat. Mereka carikan tempat khusus, di sebelah sesuatu, di dalam kotak tertentu, katanya, agar tak terbentur barang-barang lain. Di kaki pesawat, ketika saya hendak menaiki pesawat, petugasnya melapor secara khusus kepada saya dan menyalami saya dengan senyum simpatik. Mereka hanya khawatir terjadi sesuatu di Bandara Polonia ketika transit. Memang banyak kabar tak sedap saya dengar tentang bandara yang satu ini: banyak barang rusak atau bahkan hilang. Tapi saya sendiri belum pernah mengalaminya, karena selalu membawa seluruh barang saya ke kabin, sebab selalu bergegas. Di Bandara Jakarta, ketika keempat pokok itu akan masuk ke ban-berjalan, petugas bandara pun menyibak bilah-bilah karet agar tidak menabrak pokok-pokok itu. Sebelumnya, beberapa menit pasokan koper dan tas ke ban-berjalan terhenti karena mereka sibuk memindahkan pokok-pokok itu dengan hati-hati dan perlahan. Semua penunggu sempat bertanya-tanya ada apa, sampai ketika keempat pokok itu tampak masuk ke dalam ban berjalan. Dan saya bernapas lega serta hampir lepas kendali menyerukan riang hati.

Saya tiba-tiba merasa, bahwa para pecinta tanaman, sama seperti para pecinta sepeda, memang sering mendapat simpati yang baik dari orang-orang, siapa saja. Kita pun merasa, bahwa kita dapat mengharapkan orang-orang yang menyayangi tanaman adalah orang-orang yang mungkin memang layak mendapat simpati. Saya yakin para petugas Garuda di Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh, begitu baik kepada saya bukan karena mereka teringat melihat wajah saya di Tabloid Aceh Kita maupun lainnya. Mungkin mereka memang sadar bahwa setahun saya ke Aceh sekitar 15 kali atau lebih. Tapi saya kok yakin, bahwa mereka baik karena menghargai makhluk hidup dan bungong Jeumpa, lambang bumi dan adat mereka.

Bungo Jeumpa adalah sama dengan Kantil di Jawa. Kerap berbunga, asal tidak di akhir musim panas. Harum. Di Jawa sering digunakan untuk upacara kematian, sesajen, dan hal-hal lain yang bersifat spiritual. Yang istimewa di Aceh adalah yang berwarna kuning, seperti warna Kenanga (Selanga dalam bahasa Aceh). Yang ini digunakan untuk peristiwa perayaan, seperti misalnya perkawinan. Boleh dikata Bungong Jeumpa adalah simbol bumi Aceh. Sebab itu ada lagunya:

Bungong jeumpa,
Bungong jeumpa.
Meugah di Aceh.
Bungong teulebeh
teulebeh indah lagoina.

ref.

Puteh kuneng meujampu mirah bungong siula,
Indah lagoina,
indah lagoina.

Lam sinar buleun,
lam sinar buleun,
Angen peuayon.

Duroh sion
on sion yang mala-mala.

ref.

Puteh kuneng….

Dalam Bahasa Indonesia:

Bunga jeumpa,
bunga jeumpa.
Terkenal di Aceh.

Bunga yang terindah,
betapa indahnya.

Putih kuning bercampur merah bunga tiap-tiap kelopaknya.
Begitu indah,
begitu indah.

Dalam cahaya bulan,
dalam cahaya bulan.
Diayun-ayun angin.

Luruh sehelai
sehelai yang layu.

ref.

Puteh kuneng…

***

Kali ini saya berhasil juga ke Nias, menumpang pesawat PBB yang tak tentu jadwalnya itu. Musim duku. Masih ada durian. Sempat berenang di pantai selatan. Melihat tarian tradisional. Di tempat menginap di Gunung Sitoli, ada tiga burung Beo Nias. Kata pemilik hotel, pemilik burung-burung itu, Beo Nias adalah yang paling cerdas. Ada seperti kalung emas kuning di lehernya. Sebab itu ia menjadi makin langka. Sudah jadi kebiasaan untuk menghadiahkan burung Beo Nias kepada pejabat se-provinsi Sumatera yang naik pangkat, pindah, atau peristiwa penting lainnya. Harganya kini Rp 1.200.000 seekor, senyawa. Padahal itu ilegal. Saya sedih. Untung saya cuma senang tanaman. Menyebarkan tanaman itu meningkatkan populasi, meningkatkan keanekaragaman hayati. Tetapi menangkap hewan, apalagi membawanya ke tempat lain, akan mematikannya, mengurangi populasinya, mengancam keanekaragaman hayati.

Marco Kusumawijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: