Mata Pisau Informasi dalam Green Map

Dalam salah satu sesi workshop Green Map di Institut Teknologi Bandung (ITB) akhir pekan lalu, terungkap bahwa tidak mustahil sebuah komunitas di suatu kawasan menolak untuk memetakan sumberdaya kawasan tersebut. Ari Nugraha, arsitek dan pegiat Green Map di Bandung, mengalami hal itu ketika mencoba memetakan kawasan sebuah desa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di wilayah Kabupaten Bandung bersama warga setempat dan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal pada tahun 2004.

DAS Citarum di Jawa Barat

Memang pada awalnya warga cukup antusias dengan kegiatan memetakan kawasan tempat tinggal mereka menjadi sebuah green map. Tidak ada salahnya mencoba menjelajahi isi kampung sendiri kembali. Siapa tahu dengan pendekatan greenmap ini bisa menemukan hal baru di lingkungan keseharian yang mungkin selama ini terlewatkan.

Data dan potensi yang baik dan buruk pun terkumpul. Ketika diskusi, warga semakin tersadar bahwa desa mereka memiliki potensi sumberdaya alam berupa lahan subur, dan yang indah, di beberapa tempat. Justru hal ini yang menyurutkan semangat keterbukaan yang semula ada. Warga khawatir jika informasi tentang potensi alam itu tersebarkan dalam green map yang akan terbit itu maka akan membahayakan kelestarian lahan subur tadi. Alasannya cukup masuk akal, takut informasi yang tersebar akan mengundang datangnya investor tamak yang akan menguasai tanah itu dan mereka akan menderita kehilangan. Ketakutan warga bisa diterima dan diputuskan bahwa green map tersebut tidak akan dicetak dan disebarluaskan, tetapi hanya untuk kegiatan saat itu saja. Rangkaian proses pemetaan dan diskusi pun kemudian tetap bisa dilanjutkan.

Namun, walaupun proses kegiatan tetap bisa dilangsungkan, tampak bahwa kesadaran warga untuk mencoba mengenali dan mendokumentasikan potensi lingkungannya masih dihinggapi rasa ketidakpercayaan. Tidak percaya atas keamanan objek yang diinformasikan. Perasaan itu muncul sebagai asumsi terhadap dampak muatan sistem informasi yang mereka kembangkan. Ada perasaan takut ketika informasi mengenai potensi sumberdaya alam itu tersebar maka akan merugikan kelestarian sumberdaya alam itu sendiri.

Dalam kasus ini bisa dilihat bahwa siklus informasi dalam sistem informasi berbasis komunitas bisa terputus di tengah jalan. Hal itu terjadi ketika muatan informasi itu dipandang memiliki dampak “negatif” jika terpublikasikan. Bisa jadi, muatan itu lalu dipublikasikan dalam lingkup yang (lebih) terbatas, atau bahkan tidak dianggap sebagai data informasi dan selanjutnya dirahasiakan. Dalam kasus tertentu hal ini bisa dimaklumi dengan memperhatikan kepentingan komunitas itu sendiri terhadap isu yang disebarluaskan. Namun, jika ada muatan informasi mengenai sumberdaya alam, dalam kegiatan yang bisa mendukung kepentingan warga dalam melestarikan lingkungan hidupnya, yang justru disembunyikan sendiri oleh komunitas tersebut maka patut dipertanyakan. Mengapa warga pengelola sistem informasi itu justru khawatir jika informasi yang sebenarnya dibutuhkan oleh komunitas itu tersebar luas?

Kebetulan dalam kegiatan ini, sistem informasi itu dikembangkan dengan media peta. Warga mengikuti proses membuat peta dengan tangan yang didahului dengan berjalan kaki menjelajahi lingkungan. Disadari bahwa peta berbasis komunitas ini memiliki sifat tersendiri dibandingkan media komunitas yang lain. Fakta yang selama ini tidak tercatat secara sistematis bisa tampak secara eksplisit dalam peta. Selalu tidak ada data pasti mengenai letak, jumlah, dan macam potensi sumberdaya desa sebelumnya. Pun seperti yang diungkapkan oleh Marco Kusumawijaya, arsitek dan pegiat Green Map, peta bisa memudahkan penyajian data (dalam satu lembar), sehingga mudah dikomunikasikan; warga setempat pun merasa semuanya akan terlalu mudah diketahui nantinya. Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa green map yang dihasilkan nantinya juga akan disebarluaskan ke masyarakat di luar komunitas itu, termasuk ke jaringan Green Map internasional, warga merasa informasi mengenai kekayaan mereka itu terlalu terbuka. Mereka ingin harta mereka bisa tetap terahasiakan, sehingga aman dari teropong para penimbun lahan bermodal besar. Muatan informasi itu akhirnya menjadi dua sisi mata pisau, yang bisa mengandung potensi baik sekaligus buruk, bagi warga setempat. Namun, asumsi bahwa muatan tersebut akan menjelma sebagai sisi mata pisau yang buruk bisa jadi terlalu dini, dan bahkan cenderung paranoid.

Dengan dirahasiakannya data informasi sumberdaya alam di kawasan itu pun tidak akan lebih menjamin kelestariannya daripada jika data itu bisa terinformasikan lebih luas. Memang benar jika informasi itu tersebar luas hingga ke luar komunitasnya berpotensi akan menggaet minat pemburu lahan pedesaan yang tidak adil. Namun, sebagai sisi mata pisau sebelahnya, dengan tersebarnya informasi itu maka akan lebih banyak pihak yang mengetahui dan memperhatikan kelestarian sumberdaya alam itu. Terlebih jika informasinya tersebar dalam jaringan pelestari hingga tingkat internasional. Maka, jika hal yang dikhawatirkan terjadi, warga setempat pun akan bisa menggalang dukungan, hingga bantuan, untuk mencegah penguasaan tanah yang tidak layak dan tidak adil dari lebih banyak pihak. Bayangkan jika informasi itu hanya mengendap di kalangan komunitas setempat. Bisa jadi masyarakat di luar itu tidak tahu-menahu dan tak bisa membantu mencegah terjadinya hal yang tak diinginkan sejak dini.

Mikawa Bay

Atas pemahaman terhadap sisi yang baik itulah maka komunitas di kawasan Teluk Mikawa, Aichi, Jepang sangat yakin ketika menerbitkan Green Map yang berisi informasi mengenai habitat penyu laut dan lumba-lumba. Green Map yang pertama kali memetakan wilayah perairan itu ditujukan sebagai salah satu upaya melindungi kelestarian ekosistem tersebut. Dalam salah satu sesi Pertemuan Green Map Asia di Aichi EXPO 2005 di Aichi, Jepang, mereka pun mengakui resiko penyebarluasan informasi tersebut bisa mengancam kelestarian kedua spesies itu. Namun, menurut mereka, akan lebih beresiko jika masyarakat luas justru tidak tahu jika kawasan itu memiliki kekayaan hayati yang sedemikian berharga itu ada, dan juga tak tahu jika kemudian punah.

Siasat serupa juga ditunjukkan oleh banyak komunitas Green Map di belahan dunia lain. Seperti yang dilakukan oleh New Jersey Meadowlands Commision dan Meadowlands Environtment Center di Amerika Serikat yang memetakan secara detil jalur migrasi burung menuju Samudra Atlantik dan tempat-tempat kita bisa mengamati satwa liar. Demikian pula yang dilakukan oleh sebuah konsorsium, dengan dukungan pemerintah Zimbabwe dan Kanada, yang memetakan kekayaan flora dan fauna di kawasan Air Terjun Victoria di Zimbabwe, Afrika. Dalam Victoria Falls Green Map itu dengan sangat jelas diinformasikan bahwa kawasan itu terancam kelestariannya oleh perburuan dan penebangan liar di area taman nasional tersebut. Kedua green map tersebut pun dijadikan rujukan pengembangan master plan konservasi kawasan.

Memang lain di sana, lain pula di sini. Di Indonesia, dukungan resmi pemerintah pun tak menjamin kelestarian lingkungan. Namun, dengan menerapkan prinsip membuka informasi seluas-luasnya diharapkan akan membuka lebih banyak kesempatan melestarikan hal apa yang selama ini disembunyikan. Konsistensi untuk tetap pro-aktif menjalin komunikasi dengan jaringan sasaran penyebarluasan informasi adalah salah satu kunci untuk menggalang perhatian dan dukungan secara menerus. Potensi kekuatan informasi inilah yang harus selalu ditekankan kepada warga yang mengembangkan sistem informasi berbasis komunitas; dalam media apa pun, seperti buletin warga, radio komunitas, atau peta komunitas seperti green map. Dengan demikian, peran suatu media informasi berbasis komunitas sebagai sumber informasi yang dapat dijadikan alat belajar, alat pengambil keputusan, dan alat memandirikan masyarakat dalam menyusun rencana ke depan semoga akan lebih mudah terwujud. Ini mungkin adalah langkah kedua dari seribu langkah menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Menutup rapat-rapat informasi yang sejatinya baik disebarluaskan tidak selamanya tepat dan lama-lama baunya akan tercium juga. Nah, kalau yang membaui itu adalah kucing garong*, bagaimana coba…?!

Elanto Wijoyono
Pegiat Green Map di Yogyakarta

*kucing hitam besar jelek yang gemar mencuri makanan

Ditulis dalam +RAGAM. 2 Comments »

2 Tanggapan to “Mata Pisau Informasi dalam Green Map”

  1. Muli Says:

    Joyo,

    Pertimbangan kamu 2-2nya make sense. Combine punya pengalaman serupa tahun 2001 ketika memfasilitasi PRA di beberapa kampung di Bandung, Jogja, & Jakarta. Memang Bandung lebih “sensitif” tentang hal ini dibanding lokasi2 di kota lain. Entah kenapa.

    Pada akhirnya, yang berhak memutuskan apakah informasi itu mau “dibuka” atau “ditutup” adalah warga (terutama yang melakukan pemetaan). Kalau perlu adakan konsultasi warga dulu. Karena itu kan produk kolektif. Pengalaman tahun 2001 itu, akhirnya warga memutuskan “membuka/menutup sebagian”. Dari sebagian yang dibuka itu, mereka membuat profil desa yang kemudian dengan bangga ditunjukin ke pihak2 lain, termasuk Pemda: “ini nih.. profil desa versi kami!” Gitu katanya.

  2. Mata Pisau Informasi dalam Green Map « elantowow Says:

    […] Telah tampil di blog PETA HIJAU (November 21st, 2006) […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: