Membelah Kampung Kota

“Lewat sini aja, yuuk!”, ajak Anang kepada kami setelah melewati beberapa ruas jalan utama yang padat pada Sabtu pagi. Kami pun mengiyakan dan bersepeda melewati jalan-jalan kampung yang sempit, lengang, dan rindang. Jauh dari kebisingan dan polusi kendaraan bermotor yang mewarnai ruas jalan utama. Membelah kampung kota sebagai bagian dari survei bersama terakhir proyek Peta Hijau Sahabat Sepeda pun berlanjut, mulai dari pk 09.00 di depan Benteng Vredeburg melewati kawasan selatan kota Yogyakarta. Kami sempat mampir ke kawasan Kotagede untuk melihat pameran reksonstruksi pascagempa dan bertemu teman-teman pegiat pelestarian pusaka. Setelah beristirahat, menonton video, dan membincangkan isu pelestarian pusaka serta rencana update Peta Hijau Kotagede, kami pun melanjutkan perjalanan kembali menuju pusat kota Yogyakarta.

Berikut ini jalur yang disurvei pada hari Sabtu (24/03/2007) kemarin:

Benteng Vredeburg –> Jl. A. Dahlan –> Jl. Wirobrajan –> Jl. Kapt. Tendean –> Jl. Letjen S. Parman –> masuk Kampung Patangpuluhan –> Jl. Sugeng Jeroni –> masuk Kampung Gedongkiwa –> Jl. Prapanca –> Jl. Suryodiningratan –> masuk Kampung Minggiran (Suryodiningratan) –> Jl. D.I. Panjaitan –> masuk Kampung Mangkuyudan –> Jl. Mangkuyudan –> Jl. Parangtritis –> masuk Kampung Prawirotaman –> Jl. Sisingamangaraja –> Jl. Tri Tunggal –> Jl. Sorogenen –> Jl. Tegalpuri –> Jl. Tegalgendu –> masuk Kampung Celenan dan Jagalan –> Jl. Mondorakan –> Jl. Kemasan –> Jl. Ngeksigondo –> Jl. Rejowinangun –> Kebun Binatang Gembiraloka –> Jl. Kusumanegara –> Jl. Sultan Agung –> Jl. Senopati –> Benteng Vredeburg

Setelah menghabiskan maisng-masing satu cup es krim dan beristirahat sambil berteduh menunggu hujan reda, tim melakukan review survei di area Museum Benteng Vredeburg. Berikut ini beberapa hal yang telah didiskusikan:

1. Jalur/Kawasan yang tidak direkomendasikan sebagai jalur sepeda (jalur berbahaya)
– Jl. A. Dahlan (ramai, jalur bus kota)
– Jl. Wirobrajan (ramai, jalur bus kota, jalan menanjak-menurun)


– Jl. Kapt. Tendean (ramai, jalur bus kota)
– Jl. Sugeng Jeroni (jalan lebar memicu kendaraan bermotor dipacu kencang)
– Jl. D.I. Panjaitan (jalan sempit, ramai, jalur bus kota)
– Jl. Parangtritis (ramai, jalan tidak lebar)
– Jl. SO 1 Maret (ramai)
– Jl. Imogiri (ramai)
– Jl. Sorogenen (ramai, jalur bus kota)
– Jl. Mondorakan (ramai,jalan sempit, jalur bus kota,pada hari pasar macet total)
– Jl. Kemasan (ramai, jalan sempit, jalur bus kota, pada hari pasar macet total)
– Jl. Ngeksigondo (jalan lebar memicu kendaraan bemotor dipacu kencang)
– Jl. Kusumanegara: perempatan SGM, pertigaan dgn Jl. Cendana, persimpangan Jl. dgn Taman Siswa-Suryopranoto-Ki Mangunsarkoro, persimpangan dgn Jl. Batikan/Kali Mambu (ramai, jalur bus kota)
– Jl. Sultan Agung: persimpangan dgn Jl. Bintaran Wetan dan Kulon, persimpangan dengan Jl. Gajah Mada-Bioskop Permata (ramai, jalur bus kota)
– Jl. Senopati: perempatan Gondomanan (jalur bus kota, ramai)
– Perempatan Kantor Pos Besar (ramai, jalur bus kota)

2. Jalur yang direkomendasikan bagi pengendara sepeda (bisa dijadikan jalur alternatif)
– Jl. Senopati (rindang; awas jalur ramai)
– Jl. Sultan Agung sisi utara (rindang; awas jalur ramai)
– Jl. Kusumanegara-Sukonandi-Kapas-Cendana sisi utara (rindang; awas jalur ramai)
– Jl. Nyi Pembayun Kotagede (menghindari kepadatan Jl. Mondorakan-Jl. Kemasan)
– Jalan tembus antara Jl. Rejowinangun dan Jl. Ngeksigondo

3. Atraksi sepanjang jalan (apa saja yang bisa kita lihat dan kita alami di sepanjang jalur ini)
– Museum Benteng Vredeburg (wisata budaya-sejarah, parkir sepeda gratis–>titipkan ke petugas parkir scr khusus, cocok untuk istirahat, toilet)
– Pojok Beteng Kulon –> ada dua, di utara dan selatan (spot menarik, bernilai historis)
– Plengkung Gading (spot menarik, bernilai historis)
– Pojok Beteng Wetan (spot menarik, bernilai historis, kita bisa bersepeda melalui selasar tembok benteng dari Pojok Beteng Wetan ke arah Pelngkung Gading)
– Karta Pustaka Jl. Bintaran Tengah 16 (Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, pendapa asyik untuk istirahat, perpustakaan, toilet dgn izin)
– Museum Sasmitaloka Pangsar Jenderal Soedirman Jl. Bintaran Wetan (museum, bernilai historis, halaman belakang cocok untuk istirahat)
– Lapangan Minggiran, Suryodiningratan (ruang terbuka hijau, pepohonan rindang)
– Kawasan Kotagede (kawasan budaya-kerajinan tradisional, kesenian tradisional, bernilai historis-lokasi ibukota pertama Mataram Islam, banyak hal bisa dilihat: Hubungi Yayasan Kanthil Kotagede untuk mengetahui tempat/event menarik, informasi ada di Peta Hijau Kotagede 2004)

 

– Kebun Binatang Gembiraloka (ruang terbuka hijau dengan tiket, parkir memadai)
– Kawasan Kraton Yogyakarta dan Jeron Beteng (kawasan budaya, bernilai historis, informasi ada di Peta Hijau Jeron Beteng 2002 dan 2004)
– Alun-alun Pura Pakualaman (ruang terbuka hijau, ada beberapa PKL makanan)

4. Kampung kota
Bersepeda melewati permukiman penduduk di dalam kampung terasa lebih santai dan nyaman. Ada beberapa rekomendasi dan tips bagi pengendara sepeda yang melewati jalan-jalan kampung:
– Bersepedalah dengan santai, pelan-pelan karena berada di lingkungan permukiman warga


– biasanya banyak polisi tidur dalam berbagai ukuran dan bentuk
– Lebih baik dilewati pada saat pagi hingga sore hari (bisa sekaligus melihat aktivitas warga). Beberapa jalan kampung memiliki akses terbatas pada malam hari (ditutup portal, dijaga peronda, dsb)
– Biasanya ada banyak rambu-rambu buatan warga dan lebih baik benar-benar dipatuhi, a.l.: “Hati-Hati Banyak Anak”, “Dilarang Ngebut”, “Kendaraan Bermotor Matikan Mesin”, hingga yang cukup ekstrem seperti “Ngebut Benjut”/Benjol)


– Bisa dijadikan jalur alternatif. Gunakan logika arah dan insting mengacu pada ruas-ruas jalan utama karena jalan kampung biasanya cukup rumit seperti labirin.
– Cukup mudah menjumpai tempat yang asyik buat beristirahat dan bersosialisasi dengan warga setempat, a.l. warung kecil, gardu ronda, lapangan olahraga, masjid/mushola, balai warga, dll.
– Jangan lupa senyum dan sapa kepada warga setempat

Semua data hasil survei akan dikompilasi terlebih dahulu. Tahap selanjutnya adalah review akhir seluruh data. Jadwal dan lokasi pelaksanaan review akan diinformasikan nanti. Mohon masukan dari Anda. Terima kasih… :>

Selamat bersepeda!

*btw, siapa sih Anang, tu..? :p

Ditulis dalam Yogyakarta. 4 Comments »

4 Tanggapan to “Membelah Kampung Kota”

  1. azzah Says:

    mas joy…sdih bgt kmaren g bisa ikutan😥
    gimana kalo surveynya diulang lagi..hihihi…
    btw, koq nama2 pegiat sepeda yg ikutan lupa dicantumin?
    oia, es krimnya paling enak rasa apa..slurpp…:p

    best regards,

  2. Madureso Says:

    Wah esih ana becak yach…

  3. Rahmat Miftahul Habib Says:

    Ya begitulah masalah di kota2 besar, jalanan ramai jadi cukup berbahaya bagi para cyclers
    Sayangnya di Jogja blm ada car free day ya..

  4. Istanamurah Says:

    Ya begitulah mungkin karena memang area berbahaya jadi dilarang untuk melewatinya!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: