Bungo Jeumpa dan Beo Nias

Bungong Jeumpa

Kemarin saya tiba kembali ke Jakarta dari Banda Aceh dengan hati gembira: empat pokok bunga Jeumpa yang saya titip di perut pesawat Garuda sampai dengan selamat dan sejauh ini masih segar di halaman dalam rumah saya.

Seperti biasa, manakala tanaman dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, maka ia akan mengalami “shock” karena perubahan iklim dan kondisi mikro lainnya. Dua bulan lalu saya membawa pulang tiga pokok. Dua darinya mati. Jadi untuk yang empat ini saya masih menunggu sambil was-was, dan memperlakukannya dengan lebih hati-hati: diletakkan di tempat sejuk di bawah pohon waru

Rasa syukur saya kiranya lebih karena menemukan kenyataan, bahwa ternyata para petugas Garuda sangat membantu. Di Bandara Iskandar Muda di Banda Aceh, mereka membantu mengemasnya. Lalu mereka memasukkannya paling akhir ke perut pesawat. Mereka carikan tempat khusus, di sebelah sesuatu, di dalam kotak tertentu, katanya, agar tak terbentur barang-barang lain. Di kaki pesawat, ketika saya hendak menaiki pesawat, petugasnya melapor secara khusus kepada saya dan menyalami saya dengan senyum simpatik. Mereka hanya khawatir terjadi sesuatu di Bandara Polonia ketika transit. Memang banyak kabar tak sedap saya dengar tentang bandara yang satu ini: banyak barang rusak atau bahkan hilang. Tapi saya sendiri belum pernah mengalaminya, karena selalu membawa seluruh barang saya ke kabin, sebab selalu bergegas. Di Bandara Jakarta, ketika keempat pokok itu akan masuk ke ban-berjalan, petugas bandara pun menyibak bilah-bilah karet agar tidak menabrak pokok-pokok itu. Sebelumnya, beberapa menit pasokan koper dan tas ke ban-berjalan terhenti karena mereka sibuk memindahkan pokok-pokok itu dengan hati-hati dan perlahan. Semua penunggu sempat bertanya-tanya ada apa, sampai ketika keempat pokok itu tampak masuk ke dalam ban berjalan. Dan saya bernapas lega serta hampir lepas kendali menyerukan riang hati. Baca entri selengkapnya »

Bulan Tanpa Tuhan, Darah Mengalir, November!

Bulan November dalam bahasa Jepang disebut Kannazuki, bulan tanpa Tuhan. Banyak sajak dimulai dengan, “Chihaya buru, Kannazuki!” ….Darah mengalir, November!….Saya mengutip ini dari email Aika Nakashima, staff Green Map New York yang menghadiri pertemuan nasional peta hijau Indonesia pertama, Januari lalu.

Jadi kita perlu berhati-hati di bulan ini, persis ketika baru saja merasa “menang” setelah berpuasa.

Bagi saya pribadi, pengalaman pertama di pagi hari 1 Syawal 1427, hampir berdarah: Sekelompok remaja dan beberapa pemuda tanggung memukuli seorang pemuda lain yang dipaksa berhenti dan turun dari sepeda motornya. Kemudian mereka menyetop satu mobil yang dikendarai seorang ibu muda, dan memukul mobil itu berkali-kali. Semua itu terjadi di depan rumah saya, sehingga saya harus keluar dan mengingatkan. “Jangan begitu, ini hari raya Idul Fitri.” Tapi saya mengerut ketika mereka malah menantang saya sambil memungut batu besar dan mengancam akan melempari saya dengan batu. Baca entri selengkapnya »

Puncak

Rasanya sudah satu generasi saya tidak ke atau melewati Puncak, Jawa Barat.

Memang sudah lama saya merasa Puncak itu sudah jadi slum, jadi tidak ada yang menarik untuk dinikmati.

Tanggal 9-11 lalu saya “terpaksa” melewati Puncak, menuju Wisma Kompas-Gramedia, untuk rapat kerja Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Saya jadi mikir, jangan-jangan nasib Bandung dan Lembang akan sama dengan Puncak. Semuanya akan jadi korban perluasan ruang-konsumsi orang Jakarta. Orang Jakarta ini telah terus-menerus meluaskan ruang konsumsinya. Dulu, katakanlah sebelum tahun 1970-an, untuk “naar boven” di akhir pekan orang Jakarta sudah puas pergi ke Bogor, satu jam melewati jalan lama. Puncak masih suatu kemewahan yang elitis. Setelah jalan tol, Puncak menjadi tak lebih dari satu jam jaraknya. Lalu orang juga pergi ke Cipanas. Sedang ke arah laut, orang Jakarta pada awalnya sudah puas kalau ke Ancol saja. Setelah ada jalan tol, mereka pergi ke Anyer, lalu Carita, dan kini bahkan makin jauh, ke Tanjung Lesung, mendekati hutan lindung Ujung Kulon. Sedang ke arah gunung bahkan sudah sampai ke Bandung dan Lembang. Baca entri selengkapnya »

Konsumsi

Setiap kali saya makan berlebih, saya sakit perut. Gejala ini sudah lama. Tapi baru belakangan ini saya sadari, bahwa ini adalah cara tubuh saya menolak yang tidak perlu. Saya seharusnya mendengarnya. Saya seharusnya mengenal tubuh saya sendiri. Kata rahib Tibet yang diperankan Chow Yun Fat di dalam film Bullet-proof Monk, “Mengenal orang lain itu bijaksana, mengenal diri sendiri adalah pencerahan.”

Soalnya memang mengapa kita musti menolak yang tidak perlu itu. Dulu saya pikir sebabnya kita sulit menolaknya, segala vices itu, adalah karena semuanya enak. Tapi entah kenapa ketika saya masuk mall Plaza Indonesia siang tadi, saya menyadari bahwa semuanya tidak ada satupun yang enak, malah mulai timbul rasa jijik. Lihat orang-orang yang antri di Breadtalk itu: anak-anak dan remaja chubby jelek, tante-tante berpipi dan gincu tebal, dengan pinggang dan perut yang tidak jelas batasnya, tidak satupun berwajah segar sehat yang memancarkan keramahan. Baca entri selengkapnya »

Membakar

29 September 2006, ketika saya berjalan memasuki pesawat terbang dengan tujuan Jambi, sepucuk sms datang dari penulis Ayu Utami. Sebuah pertanyaan,”Adakah aturan yang melarang orang membakar sampah?”. Saya jawab, “Mungkin sudah ada,” sambil menebak bahwa pasti ia sedang jengkel kepada tetangga rumah barunya yang mungkin saja sedang membakar sampah. Saya juga sehentak teringat penulis besar, Pramoedya Ananta Toer, yang punya kegemaran membakar sampah seumur hidupnya.

Sejam kemudian saya mendapatkan diri saya dikepung asap yang menghalangi pandangan hanya sejauh beberapa ratus meter. Saya mendarat di Jambi. Langit putih. Matahari temaram, disekitarnya cahaya berpendar, sehingga kita bisa menatapnya tanpa silau, oleh sebab intensitasnya yang menurun drastis. Kemerahan ia, seperti bulan ketimbang dirinya Sang Surya. Fotografer National Geographic, Sdr. Ferry, mulai menggerutu, karena tak bisa mendapatkan langit biru. Ia juga tak yakin bagaimana bisa memotret di situs Muarojambi yang menjadi tujuan kami. Kami memang datang sebagai Perhimpunan Pelestarian Kawasan Muarojambi. Teman-teman mendapuk saya sebagai ketua, sampai waktunya nanti ketika saya mungkin merasa tidak sanggup lagi, misalnya karena harus lebih kental mengurus Dewan Kesenian Jakarta. Baca entri selengkapnya »

Bangkok, Thailand, 23-28 September 2006

Tanggal 23, empat hari setelah coup d’etat tak-berdarah–setidaknya hingga hari ini–saya mendarat di Bangkok. Ada lokakarya peta hijau yang diselenggarakan oleh Thai Environment Institute (TEI) untuk sekitar 230 orang, terdiri dari 60 % guru sekolah dan 40 % pejabat kotamadya dari 46 kota atau kabupaten di Thailand. Saya menjelaskan pengalaman Indonesia.Ini adalah bagian dari program TEI tentang penghematan energi. Mereka ingin menggunakan peta hijau sebagai metode untuk mengenali potensi dan masalah lingkungan setempat. Selanjutnya ada lokakarya tentang mind-map (peta batin) yang digunakan untuk mengenali kehendak kolektif, yang digunakan untuk membentuk visi masa depan. Atas dasar peta hijau dan peta batin itu, kemudian akan disusun rencana aksi strategis. Peta hijau memberikan gambaran tentang ‘strategic situation‘, sedang peta batin tentang ‘strategic vision‘. Untuk mencapai ‘strategic vision‘ diperlukan ‘strategic action (plan)‘. Baca entri selengkapnya »

Kota dan Perubahan Lingkungan: Sketsa Menuju Keberlanjutan

Kota adalah gejala yang relatif baru dalam sejarah bumi. Namun, sejarah kota, yang murni karya manusia dan yang singkat ini, mempengaruhi perubahan yang mendalam dan menggetarkan, baik pada manusia maupun bumi, yang tidak pernah dialami dalam sejarah bumi yang begitu panjang sebelumnya, kecuali yang disebabkan oleh bencana-bencana kosmik. Lebih dari itu, lebih penting dari itu, kota yang sejarah masa lalunya baru singkat ini tampaknya akan memiliki sejarah masa depan yang panjang, dan bahkan menguasainya.

Perubahan dalam dua atau tiga abad terakhir saja oleh ulah manusia melebihi perubahan-perubahan di masa sebelumnya. Manusia membangun “kota” —pun dalam pengertian yang sangat sederhana— baru beberapa ribu tahun saja sebelum masehi, terutama di tempat-tempat “cradles of civilizations” (China, India, kawasan di sekeliling Laut Tengah). Alangkah tidak berartinya beberapa ribu tahun dibandingkan umur manusia yang beberapa puluh ribu tahun manusia modern, beberapa ratus ribu tahun manusia purba, atau beberapa puluh juta tahun dinosaurus. Baca entri selengkapnya »