Memetakan Kawasan Bebas Rokok

Pernah baca atau dengar puisi karya Taufiq Ismail yang bertajuk Tuhan Sembilan Senti? Menarik, tetapi juga cukup memprihatinkan. Wacana tersebut sudah banyak digulirkan dan pada beberapa kasus menghasilkan kebijakan publik. Namun, kenyataan bahwa kondisi alam perokokan di Indonesia tidak banyak berubah sangatlah tampak.

Ide liar saja jika bagaimana dalam peta hijau bisa dimasukkan titik-titik tempat yang bebas rokok juga. Kita bisa petakan, kawasan atau ruang mana saja di sekitar kita yang bisa benar-benar bebas dari asap perokok. Kita tahu hampir setiap kita menoleh pasti akan melihat orang merokok atau minimal membaui asap rokok. Justru dengan sedikitnya titik yang benar-benar bebas rokok maka akan cukup menarik jika bisa dipetakan dalam sebuah peta hijau.

Aktivitas merokok pada beberapa sisi bisa dilihat dari hak asasi kesehatan, baik kesehatan si perokok maupun yang tidak merokok. Namun, seperti yang disampaikan oleh WHO, semangat yang ingin ditekankan di sini bukannya untuk mempermalukan atau melarang aktivitas merokok. Semangat untuk menyadarkan hak publik untuk mengambil sikap dan menentukan di mana tempat yang boleh untuk merokok dan yang tidak boleh untuk merokok adalah tujuannya. Bagaimana, apakah sudah terpikirkan pula ikon Green Map yang cocok untuk isu ini? Baca entri selengkapnya »

Iklan
Ditulis dalam +RAGAM. 13 Comments »

peta hijau semakin dibutuhkan?

menarik untuk disimak…

menarik untuk dilihat…

menarik untuk dibaca…

menarik untuk dibuat…

menarik untuk dimiliki???

dari hasil yang coba saya simpulkan selama beberapa hari jadi tamu panggilan di KBR68H Jakarta…banyak orang yang berminat untuk mengtahui tentang peta hijau (apa, bagaimana dan kenapa) bahkan ini dapat menjadi sebauh alternatif baru dalam pembelajaran baru tentang “sejauh apa pengenalan kita terhadap ruang”. ruang tempat kita hidup, tumbuh dan berkembang…selama ini bukankah kita selalu melewati secara monotonis dalam sebuah rotasi; pagi-siang-sore-malam-pagi…tapi apakah kita sadar akan kearifan-kearifan lokal di dalamnya??? yang ada disebelah kita??? dan bahwa ruang tempat kita tinggal lama-lama akan tergerus seiring waktu yang berjalan…oleh si penghuni ruang itu sendiri…

david a. sagita

Ditulis dalam +RAGAM. Leave a Comment »

greenmap distribution

peta hijau atau green map bisa di dapatkan dimana ya…??? ini merupakan sebuah pertanyaan yang bagus, kalo di Jakarta mungkin kita bisa mendapatkan di toko buku AKSARA (dan cabangnya pasti) tapi bagaimana dengan di daerah yang lain??? apakah mudah mendapatkannya??? ini yang harus dapat kita pecahkan bersama bagaimana mendapatkan peta hijau…mari kita diskusikan bersama…

david a. sagita

Ditulis dalam +RAGAM. 2 Comments »

Memetakan Pohon

Pepohonan di perkotaan lama-kelamaan makin jadi barang langka. Nasibnya pun semakin tak jelas. Keberadaannya seringkali terkalahkan oleh reklame, lampu penerangan jalan, jalan, trotoar. Kota jadi panas. Orang teriak butuh pohon. Namun, ketika banyak pohon bertumbangan dan jatuh korban, orang-orang jadi paranoid sama pohon. Rame-rame pohon besar ditebangi. Habis itu, panas… orang-orang pun teriak lagi.. begitu seterusnya.

Dalam kaitannya dengan keberadaan pepohonan di perkotaan, Nirwono Joga menandaskan bahwa warga kota berhak atas keamanan dan keselamatan publik, juga hak atas kesehatan lingkungan, serta perlindungan dari bencana lingkungan. Pohon-pohon yang bertumbangan akhir-akhir ini banyak yang tak sesuai peruntukannya, tak sesuai pula standard keamanannya. Jelas bahwa pohon pun memerlukan perawatan, pemeliharaan, dan bahkan asuransi. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam +RAGAM, Jakarta. 7 Comments »

Mapping and Eco-Activism – Re-Discovering Our Common Ground

by Maeve Lydon

(first appeared in Alternatives Journal Fall 2000)

When we are lost, a map helps us find our way. We can locate where we are and the possible routes we could take. A map can also point out the important features and assets of a community. The big question is: Who makes the map? The answer will determine who decides what is important, what routes lie open to the user, and, in effect, whose reality counts. 1.

In our culture, mapping is primarily a professional exercise, carried out by planners, geographers, surveyors and others. Although the purposes of maps are as numerous as the maps themselves, it’s safe to say that most maps have been produced to further the economic and political purposes of the economic and political elite. In Canada, the history of map-making is intimately tied to the exploration of the land mass and the identification of resources to be exploited, whether that be beaver pelts, lumber, gold or oil. Thus, map making, resource exploitation and the conquering of native land have gone hand in hand since Europeans arrived in this corner of the world. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam +RAGAM. 2 Comments »

Mata Pisau Informasi dalam Green Map

Dalam salah satu sesi workshop Green Map di Institut Teknologi Bandung (ITB) akhir pekan lalu, terungkap bahwa tidak mustahil sebuah komunitas di suatu kawasan menolak untuk memetakan sumberdaya kawasan tersebut. Ari Nugraha, arsitek dan pegiat Green Map di Bandung, mengalami hal itu ketika mencoba memetakan kawasan sebuah desa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di wilayah Kabupaten Bandung bersama warga setempat dan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal pada tahun 2004.

DAS Citarum di Jawa Barat

Memang pada awalnya warga cukup antusias dengan kegiatan memetakan kawasan tempat tinggal mereka menjadi sebuah green map. Tidak ada salahnya mencoba menjelajahi isi kampung sendiri kembali. Siapa tahu dengan pendekatan greenmap ini bisa menemukan hal baru di lingkungan keseharian yang mungkin selama ini terlewatkan.

Data dan potensi yang baik dan buruk pun terkumpul. Ketika diskusi, warga semakin tersadar bahwa desa mereka memiliki potensi sumberdaya alam berupa lahan subur, dan yang indah, di beberapa tempat. Justru hal ini yang menyurutkan semangat keterbukaan yang semula ada. Warga khawatir jika informasi tentang potensi alam itu tersebarkan dalam green map yang akan terbit itu maka akan membahayakan kelestarian lahan subur tadi. Alasannya cukup masuk akal, takut informasi yang tersebar akan mengundang datangnya investor tamak yang akan menguasai tanah itu dan mereka akan menderita kehilangan. Ketakutan warga bisa diterima dan diputuskan bahwa green map tersebut tidak akan dicetak dan disebarluaskan, tetapi hanya untuk kegiatan saat itu saja. Rangkaian proses pemetaan dan diskusi pun kemudian tetap bisa dilanjutkan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam +RAGAM. 2 Comments »

Pasar Emisi Karbon dan Menjadi ‘Netral Karbon’

Secara sederhana, siklus karbon di atmosfer Bumi terdiri dari dua buah reaksi:

  • Senyawa karbon + oksigen -> karbondioksida + energi. Ini terjadi misalnya pada pernafasan makhluk hidup atau hampir segala hal yang berhubungan dengan pembakaran.
  • Karbondioksida + energi -> senyawa karbon + oksigen. Ini terjadi pada tanaman di siang hari, tanaman menangkap karbon dari atmosfer dan mengubahnya menjadi karbohidrat.

Sebelumnya ini adalah reaksi yang bersifat ekuilibrium. Karena kedua reaksi tersebut seimbang, maka kuantitas karbondioksida di atmosfer relatif konstan. Masalah baru timbul setelah revolusi industri dimana penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, gas alam) semakin meluas. Penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan bermilyar-milyar ton senyawa karbon yang sebelumnya tersimpan selama jutaan tahun di perut bumi dilepaskan ke atmosfer. Akibatnya konsentrasi karbondioksida di atmosfer semakin bertambah, dan inilah yang menyebabkan temperatur bumi semakin meningkat. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam +RAGAM. 2 Comments »